BAB 7 : EARTH SWORDHEART
God’s Shells Kingdom kembali melakukan rapat strategi untuk melakukan penyerangan ke Nobody’s Kingdom. Tak seperti rapat sebelumnya, kali ini pihak kingdom juga memanggil Earth Swordheart, seorang magician yang sudah lama bekerja pada kingdom.
Walau tak terlibat langsung dalam kegiatan militer ataupun medical, namun Earth Swordheart juga mempunyai jabatan penting di God’s Shells. Oleh pihak kingdom, Earth mendapat tugas untuk mencuri orang-orang penting dari Nobody’s Kingdom.
Bila orang-orang hebat di kingdom biasanya merupakan rekomendasi dari para petinggi kingdom, Earth Swordheart bisa bekerja di sini dengan mencoba mengajukan diri untuk mengabdi para kingdom.
Awalnya pihak kingdom menertawakan dirinya ketika mengajukan hal tersebut. “Kau pikir kingdom ini tempat hiburan dimana seluruh rakyat akan berbondong-bondong untuk menyaksikan aksi sulapmu?”
Earth tidak tersinggung sama sekali dengan ledekan tersebut. Dengan santainya dia membalas ucapan tersebut, “Well, aku tau kalau markas ini hanya membutuhkan para soldiers dan medical. Tapi bukankah dalam peperangan itu kita juga harus menggunakan strategi?”
“Yes, of course!” Balas juru bicara.
“Dan terkadang bila terpaksa, kita harus menggunakan cara yang licik sekalipun. Aku dapat menolong kalian untuk mencuri orang-orang yang kalian anggap sangat berpengaruh di kingdom musuh.”
Pihak kingdom mulai menyimak ucapan Earth. Sepertinya bagus juga saran orang ini, bisik juru bicara kingdom pada rekannya.
“Coba kamu buktikan aksi kamu sekarang,” lanjut sang juru bicara kingdom.
Earth tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Dia segera membuka kain hitamnya lalu menarik salah seorang petinggi kingdom untuk berdiri di atasnya. Tak lama kemudian dia membacakan mantra dan ajaib, petinggi kingdom tersebut langsung lenyap.
Semua yang menyaksikan kehebatan Earth pada bertepuk tangan, memuji aksi hebat magician tersebut.
“Fantastic..!! Tapi bagaimana caranya kamu bisa mengembalikan sahabat kami lagi?” Juru bicara kingdom mulai kebingungan.
“Sayangnya aku tidak ikut berada di atas kain ini. Jadi aku tak tau dimana dia terdampar. Doakan saja semoga dia bisa kembali lagi dengan selamat.”
“Oh my God…!!” Semuanya pada panik, namun mereka tetap mengangkat Earth sebagai kingdom magician.
“Dari dua pertempuran yang aku lihat, sepertinya tentara itu makin menunjukkan kehebatannya. Aku ingin kamu segera menangkap dia,” ucap juru bicara kingdom.
Earth segera menjalankan tugasnya. Dia mulai membuka kain hitam ajaibnya. Kain tersebut merupakan jalan yang bisa mengantar Earth menuju God’s Shells. Earth berdiri di atas kain tersebut sambil mengucap mantra, setelah itu dia langsung menghilang dari ruangan.
Earth tiba di dalam maskas Nobody’s Kingdom. Dia berjalan menuju barak laki-laki dimana Jupiter dan tentara lainnya sudah tidur nyenyak. Earth mengendap-endap masuk ke dalam barak tersebut. Beberapa tentara yang sedang dinas malam sempat curiga melihat Earth yang berkeliaran di sekitar barak.
“Ada yang bisa saya bantu? Sepertinya aku tak pernah melihatmu sebelumnya. Kamu pasti soldier-in-training yang kebingungan mencari toilet.” Tanya tentara tersebut.
“Yes, boleh aku tau dimana letak toilet pria?” Tanya Earth pura-pura.
“Ada di ujung sana,” balas si tentara.
Earth memang memakai pakaian serba hitam, mirip baju tidur yang biasa dikenakan Nobody’s soldiers. Dia pura-pura berjalan ke arah toilet seperti yang disarankan tentara tersebut. Setelah tidak ada lagi tentara yang melintas di depan barak, Earth segera menyelinap masuk dan melangkah menuju ranjang Jupiter.
Setelah dia yakin bahwa orang yang berada di hadapannya merupakan Jupiter, Earth segera menyuntikan virus ‘long-sleep’, sebuah ramuan yang dia ciptakan sendiri. Apabila ada orang yang terkenal virus tersebut, maka orang tersebut akan tertidur dalam waktu yang cukup lama. Namun tak sampai menyebabkan kematian seperti terkena virus death-time.
Setelah virus berhasil dimasukkan ke dalam tubuh Jupiter, Earth kembali membuka kain hitamnya. Sekuat tenaga dia mengangkat tubuh Jupiter, lalu mereka berdua berdiri di atas kain tersebut. Seketika lenyaplah mereka dari barak Nobody’s.
Earth kembali tiba di God’s Shells. Jupiter yang sudah tertidur akibat virus long- sleep diletakkan di sebuah ruang yang biasa digunakan untuk menampung korban virus ini. Lunar yang sedang kebagian dinas malam diminta untuk menjaga Jupiter. Earth yang telah berhasil menjalankan misinya, melangkah keluar meninggalkan ruangan.
Tinggallah Lunar berada seorang diri. Dia segera memasangkan infus pada lengan Jupiter. Biasanya para korban long-sleep akan tertidur selama satu atau dua minggu, tergantung dari kekuatan tubuh korban dalam menangkal virus.
Lunar menatap tubuh Jupiter yang berbaring lemah. Walau beberapa kali melihat Jupiter dalam pertempuran, dan beberapa hari sebelumnya dia juga baru bertemu dengan Jupiter yang menyamar sebagai pengemis, namun kali ini Lunar seperti baru pertama kali bertemu dengan Jupiter.
“Melihatmu dari jarak paling dekat, aku baru sadar kalau kamu begitu gagah. Bodoh sekali Rain yang lebih memilih untuk meninggalkan kamu,” gumam Lunar.
Lunar begitu bahagia ketika pihak medical menunjuk dirinya sebagai perawat Jupiter. Dengan senang hati dia mengganti kantong-kantong infus pengganti makanan yang dibutuhkan Jupiter. Sambil merawat Jupiter, Lunar kembali mengingat obrolan terakhirnya dengan Cloud. Sepertinya tidak ada lagi kesempatan bagiku untuk mendapatkan head-captain. Dia sudah terlanjur membenci aku. Kalau memang head-captain lebih memilih Rain dibanding aku, mungkin lebih baik aku mendekati mantan pacar Rain ini saja, Lunar tersenyum. Matanya terus memandang Jupiter yang tak sadarkan diri.
Fisik Jupiter jauh lebih kuat dibanding para korban long-sleep lainnya. Hanya dalam waktu lima hari, Jupiter sudah menunjukkan tanda-tanda akan siuman.
“Dimana aku?” Tanya walau kepalanya masih pusing.
“Kau sudah sadar rupanya. Anda sekarang sedang berada di markas God’s Shell,” balas Lunar sambil menunjukkan senyum genitnya.
“What? Kenapa aku bisa berada di sini? Aku tak tau apa-apa tentang kejadian ini.”
“Tentu saja kamu tidak tau, karena kamu baru saja sembuh dari virus long-sleep. Magician kami telah menyuntikkan virus tersebut ke tubuh kamu.”
Sebuah penjelasan yang membuat Jupiter marah besar. Walau kesehatannya masih belum stabil, dia berusaha bangun dari tempat tidurnya.
“Sir, oh my God. Be careful, kamu masih belum pulih.” Lunar teriak sambil berusaha menahan Jupiter.
“Aku harus segera kembali ke kingdomku. Kurang ajar sekali kalian.” Jupiter mencabut jarum infus di lengannya lalu melangkah meninggalkan tempat tidur. Darah di lengannya perlahan mulai mengalir.
Baru saja berjalan tiga langkah, Jupiter pun terjatuh karena masih lemas. Lunar membantunya untuk berbaring di tempat tidur lagi.
“Lepaskan aku. Dasar pecundang bodoh. Bukan begini caranya bersaing…” Melihat ada jendela yang terbuka di depan ranjangnya, Jupiter segera melangkah ke jendela tersebut.
”Eh kau mau kemana? Ini lantai 17, kamu tidak boleh keluar lewat jendela. Lagipula kamu tidak boleh berkeliaran pada saat ini karena kamu sedang dalam pengawasan kingdom,” lanjut Lunar.
“Pokoknya aku harus kembali ke kingdomku.”
“Jangan melompaaattt… Ini bahayaaa…!!!” Teriak Lunar sambil menarik kaki Jupiter yang membuatnya tak bisa bergerak.
“Lepaskan…!!!” Bentak Jupiter.
“Tidak. Kalau kamu tidak mendarat dengan baik, kamu bisa terkena patah tulang pada sekujur tubuhmu, atau mungkin malah kamu tidak selamat. Tolong jangan lakukan! Itu bisa membahayakan dirimu sendiri,” pinta Lunar.
“Aku tau kalau sebentar lagi kalian akan kembali menyerang kami,” lanjut Jupiter yang sudah mengurungkan niatnya.
“Aku janji, kalau kamu sudah sembuh, aku akan membantumu keluar dari markas ini. Kalau kamu ingin keluar dengan selamat, aku mohon, jangan jauh-jauh dariku.”
“Apa aku bisa mempercayai ucapanmu?” Selidik Jupiter.
“Sir, kau tertidur di sini selama lima hari. Kalau aku jahat, bisa saja aku menyuntikkan obat yang bisa membuatmu tewas seketika. Tapi aku tak melakukan itu kan.”
Jupiter berpikir sejenak. Benar juga apa yang dikatakan perawat ini. Lagipula, dari pancaran matanya aku dapat menangkap bahwa dia begitu tulus dalam merawatku. Baiknya aku ikuti saja saran gadis ini. “Baiklah, aku akan menuruti saran kamu.”
Lunar tersenyum mendengar apa yang diucapkan Jupiter. Sambil terus mengecek tekanan darah dan denyut jantung Jupiter, Lunar memberanikan diri untuk membuka obrolan.
“Apa benar kamu mantan pacarnya Rain?” Tanya Lunar.
“Hahaha, tidak. Kami hanya teman,” balas Jupiter.
“Tapi kamu mencintainya kan?”
“Kalaupun iya, rasanya tidak mungkin. Bukankah dia sekarang makin dekat dengan head-captain kalian?” Tanya Jupiter.
“Ya begitulah. Sejak kehadiran temanmu di markas ini, perhatian head-captain padaku langsung berubah.”
“Berarti kita senasib ya. Sama-sama mendapatkan cinta yang tak berbalas.”
“Setidaknya masih ada kesempatan untuk mendapatkan cinta yang baru…,” balas Lunar sambil menunjukkan senyumnya.
Sayang, di tengah kedekatan mereka, tiba-tiba saja terdengar kabar kalau Jupiter harus dimasukkan ke dalam Kingdom Jail. Para petinggi kingdom segera menyeret Jupiter menuju penjara bawah tanah, dimana Rain masih berada di sana.
“Lepaskan aku… lepaskan aku…” Jupiter meronta-ronta.
“Kendalikan emosimu, karena kami tak segan-segan untuk membunuhmu.”
Suara keributan di pintu penjara membuat Rain kembali terbangun dari tidurnya. Rain begitu terkejut melihat siapa yang akan menemaninya di dalam penjara itu.
“Ayo keluar,” ucap sipir penjara pada Lunar yang ikut menemani Jupiter berjalan ke ruangan ini.
Dengan berat hati Lunar harus berpisah dengan Jupiter. “Maafkan aku yang tidak bisa membuktikan janji kita kemarin. Aku gagal untuk menolongmu keluar dari sini,” ucap Lunar sedih.
“No, problem. Setidaknya kamu sudah merawatku selama ini, hingga kondisiku makin membaik. Pergilah. Jika memang ada kesempatan, datang ke sini untuk menemuiku,” balas Jupiter.
Rain segera berjalan menghampiri Jupiter yang masih berdiri di pintu sel. “Kesalahan apa yang sudah kamu perbuat, sampai kamu harus berada di tempat ini?”
“Pertanyaan itu juga yang ingin aku katakan padamu, untuk membuktikan intuisiku beberapa hari ini,” balas Jupiter.
Mereka pun saling berbagi cerita. Tak lama kemudian Cloud kembali datang menemui mereka berdua. Melihat kehadiran Cloud, Jupiter kembali menunjukkan rasa bencinya.
“Untuk apa kau ke sini, head-captain keparat,” sahut Jupiter geram.
“Nanti anda juga akan tau, aku ini keparat atau bukan,” balas Cloud tenang.
Melihat kedua lelaki ini terus adu komentar, Rain berusaha menengani, “Ok, stop! Kalau kita hanya mempertahankan emosi, kita berdua tak akan bisa keluar dari sini. Bersabarlah!”
Ketika suasana mulai reda, Cloud kembali angkat bicara, “I’m sorry, Rain. Sampai hari ini aku masih belum bisa mencari bukti untuk menolong kamu.”
“Aku rasa, satu-satunya cara untuk membuktikan bahwa tulisan itu bukan milik Rain, hanya dengan membandingkan dengan tulisan Rain sebenarnya,” sambung Jupiter.
“Tapi bagaimana caranya ya. Tiap kali masuk ke sini, aku harus melalui pemeriksaan ketat. Aku tidak diizinkan untuk membawa apapun,” sahut Cloud.
Jupiter pun teringat akan satu hal, “Rain, kamu masih ingat kalau kamu pernah aku minta menulis di buku catatan intuisiku?”
Mendengar pertanyaan Jupiter, Cloud jadi sedikit gundah. Sepertinya mereka berdua cukup dekat. Tapi sudahlah, Cloud segera melupakan rasa curiganya.
“Yes, I still remember. Tapi bagaimana caranya kamu bisa mengambil buku catatan itu?” Lanjut Rain.
“Satu-satunya cara adalah dengan meminta pertolongan dari Earth Swordheart,” ucap Cloud.
Di tengah obrolan mereka, Lunar kembali datang menghampiri Jupiter, “Sir, boleh aku memeriksa kesehatanmu lagi.”
Jupiter tersenyum lalu berjalan menghampiri Lunar. Jupiter paham bahwa ini alasan Lunar untuk dapat menemuinya.
“Anda masih perlu banyak istirahat, Sir,” ucap Lunar setelah selesai melakukan pemeriksaan.
Ketika Lunar sudah meninggalkan ruangan, Cloud kembali mengucapkan sesuatu, “Sepertinya perawat itu naksir kamu. Dia begitu perhatiaan dalam merawatmu, sejak kamu belum sadar hingga sekarang. Ini kesempatan baik. Dia merupakan salah satu target praduga kami atas kasus yang menimpa Rain.”
“So, what shoud I do?” Tanya Jupiter.
“Tolong kamu dekati saja dia, sementara aku akan menghubungi Earth magician untuk mencuri buku catatanmu.”
Mereka pun setuju dengan ide Cloud. Waktu Cloud sudah habis. Dia harus kembali ke tempat latihannya. Menjelang pertempuran, Cloud memang jauh lebih sibuk.
“I love you, Rain…,” ucapnya yang membuat Jupiter terkejut.
***
“Maaf Captain, rasanya sulit bila aku harus menjalankan misi tanpa seizin kingdom.” Earth menolak keinginan Cloud untuk membantunya.
“Earth please, tak akan ada yang tau tentang ini selain aku. Believe it!” Cloud terus meyakinkan Earth.
“Sorry, Captain. Kali ini aku tak bisa membantumu.”
Cloud agak sedikit kesal karena Earth tidak bisa diajak bekerja sama, akhirnya dengan sangat terpaksa Cloud harus mengeluarkan ancamannya, “Earth, ngomong-ngomong kamu ingin merasakan seperti apa rasanya bila tubuh kita terkena virus death-time?”
Tanpa banyak kata, Earth segera mengeluarkan kain hitamnya. Cloud tersenyum melihat mimik muka Earth yang begitu ketakutan. Sorry Earth, terkadang aku harus sombong, ucap Cloud dalam hati.
Earth kembali menyelinap ke markas Nobody’s Kingdom. Sialnya, kali ini dia terdampar di toilet perempuan. Kehadirannya di sini membuat dirinya menjadi bulan-bulanan para perempuan medic.
“Hmm, ternyata ada juga tentara yang tak bisa membaca tulisan di pintu masuk toilet.” Mereka terus cekikikan.
Earth segera melangkah menuju barak dimana dia menangkap Jupiter beberapa hari yang lalu. Untungnya saat itu baik di luar maupun di dalam barak tidak ada orang yang lalu lalang, jadi Earth bisa bebas keluar masuk. Sekilas dia memperhatikan para tentara yang sedang mengikuti latihan.
Di saat Earth tengah asyik memeriksa lemari Jupiter, tiba-tiba saja dia dikejutkan oleh kedatangan dua orang tentara yang menodongkan senjatanya.
“Aku pikir malam itu kamu soldier-in-training, ternyata kamu seorang pencuri. What are you doing here?” Sahut salah seorang tentara geram.
Earth yang mati ketakutan segera mengeluarkan kain hitamnya. Sesaat kemudian dia udah menghilang dari barak Nobody’s.
Melihat Earth udah kembali, Cloud segera mengejarnya, “Kamu berhasil kan mendapatkan buku tersebut?” Tanyanya tak sabar.
“Captain, kali ini kau boleh mengakhiri nyawaku sekarang juga. Sorry, aku tidak dapat menemukan buku yang kau minta. Aku tertangkap basah sedang membongkar lemari tersebut,” ucapnya terengah-engah.
“Alright. Thanks for the help.” Cloud kembali larut dalam kesedihan. Tak ada lagi cara untuk menyelamatkanmu, Rain. Cloud melangkah pelan meninggalkan Earth yang napasnya masih terengah-tengah.
Sial betul aku hari ini, umpat Earth.
***

