
“ Boleh tau transfer dari siapa duit ini, mbak?” tanya Daniel.
“ Dari bapak Atmoro. Cukup puas, pak?” kata teller itu. Daniel mengucapkan terima kasih dan berlalu dengan dahi berkerut. Bapak Atmoro ? Siapa bapak Atmoro ? Perasaaannya mengatakan dia tak kenal dengan yang namanya Atmoro.
Malam itu setelah menutup kios Daniel menunjukkan buku tabungannya pada Roni. Katrine masih belum pulang. Biasanya dia nongkrong hingga jam 10 baru dijemput sopirnya.
“ Lihat, Ron, saldonya…” kata Daniel sambil menunjukkan bukunya.
“ Wah ! 50 juta ! Dapat undian ya, Dan ?” tanya Roni,
“ Dengkulmu ! Aku justru lagi aneh. Darimana uang ini berasal? Kata teller ini transfer dari bapak Atmoro. Siapa si Atmoro ini, ya ?” tanya Daniel. Roni berpikir sejenak.
“ Oh, bisa jadi itu kesalahan transfer.” Sela Katrine
“ Wah, kalau diminta dikembalikan, sayang donk ! 50 juta ! Bisa buat beli mobil seken sebiji. “ komentar Roni sambil bersiul.
“ Jangan-jangan dari bokap lu, Dan “ tebak Katrine.
“ Nggak bakalan deh. Bokap gua namanya Bimantoro, bukan Atmoro. Lagian tanya deh sama Roni, udah berapa bulan gua kabur dari rumah, pernah nggak dia melongok ke gubuk ini ?” Kata Daniel dengan suara ketus. Katrine kontan terdiam.
“ Udah deh, nggak usah di pikirin! Dapat rejeki nomplok ayo kita rayakan !!!” ajak Roni mencairkan suasana. Katrine dan Daniel akhirnya mengiyakan. Mereka makan-makan di sebuah kafe tenda.
Daniel menunggu hingga sebulan tanpa menggunakan uang salah transfer itu. Setelah sebulan berlalu dan tak ada klaim dari pihak yang berkepentingan, dia menggunakan uang itu untuk membeli sebuah mesin photo copy lagi. Selain itu mereka juga menggaji seorang pekerja sehingga kios mereka bisa buka dari jam 8 pagi hingga jam 10 malam tanpa mengganggu kuliah mereka.
Setelah setahun beroperasi, kios Roda Dunia memberikan keuntungan yang besar bagi dua sahabat ini. Semua keuntungan ditabung. Mereka mulai memikirkan perluasan usaha. Kalau kios mereka sekarang berada di dekat Kampus Untar, mereka merencanakan kios kedua lokasinya di dekat kampus Trisaksi. Mereka menjelajahi Kyai Tapa dan menemukan sebuah kios kosong di samping pintu kereta ke arah kampus Usakti, daerah yang cukup strategis menurut mereka. Mereka mengontrak kios itu dan mendekornya dengan apik.
“ Huh, capek juga !” Daniel merebahkan tubuhnya di atas meja yang belum selesai di dekor itu.
“ Dengan dua kios apa kamu masih mau tetap bekerja di toko Ko Asui ?” tanya Katrine. Roni tidak ikut karena sedang menjaga kios di Tanjung Duren .
“ Omset Ko Asui sehari seratus juta lebih, sedangkan omset Roda Dunia cuman satu juta, kadang malah nggak nyampe. Bedanya seperti langit dan bumi. Apa aku harus puas dengan perbandingan itu ?” tanya Daniel.
“ Ko Asui kan grosir, sedangkan kalian pengecer. Tentu saja omsetnya jauh berbeda. Tapi persentase keuntungan pengecer kan lebih besar dari Grosir.” Sanggah Katrine.
“ Aku pingin jadi raja grosir ATK di Jakarta.” kata Daniel berangan-angan.
Katrine tertawa. “ Tahun 2020 ?” ledeknya.
Daniel ikut ketawa. “ Enggaklah, engga perlu selama itu. 2012 kurasa sudah bisa. Sopir kamu belum datang, Kat ? Kalau belum datang, biar kuantar kamu pulang !” kata Daniel, kini dia sudah membeli motor.
“ Belum. Nyasar kaleee, “ Katrine mengumbar senyumnya.
Daniel mengunci pintu, Katrine naik ke boncengan. Jakarta di waktu malam sangatlah indah. Lampu-lampu berkerlipan di mana-mana. Dari atas boncengan Katrine bisa melihat keindahan Jakarta di waktu malam, jauh berbeda jika dilihat dari dalam mobil. Melihat dari mobil pemandangan seperti dibatasi, ada atapnya. Melihat dari boncengan motor terlihat segalanya.
“ Muter-muter dulu ya Dhan, baru pulang !” ajak Katrine.
“ Oke !” Daniel menarik gas agar motornya lebih kencang. Katrine merasa terpaan angin yang sejuk menembus wajahnya, membelai rambutnya.
“ Woooiiii!!!!!Asyikkkk !” teriaknya sambil mendekap punggung Daniel. Dia melingkarkan kedua tangannya ke perut Daniel, memeluk Daniel dengan erat, membayangkan Daniel pacarnya. Daniel cuek aja. Mereka memutari Segi Tiga Senen yang sedang dibangun, masuk ke Gunung Sahari, memotong ke Pasar Baru dan melaju di Gajah Mada. Stasiun Kota sepi dan Mangga Dua diam di kala malam.
“ Sayang motor gak boleh masuk tol. Kalau boleh kita bisa ngebut sekencang kencangnya.” Teriak Daniel di antara kerasnya suara motor.
“ Ngebut apa nggak takut mati ?” tanya Katrine.
Daniel ketawa. “ Kalau semua takut kapan majunya ?” jawab Daniel, itu adalah perinsipnya yang keempat.
“ Ancol ? Hailai” tanya Katrine. Katrine melirik jam tangannya. Hampir jam 10 malam, masih sore untuk ukuran Jakarta yang insomia.
“ Udah malam, Kat. Besok aku kuliah. Lain kali aja.” Jawab Daniel. Godaan Katrine terasa menantang, tapi berani menolak juga sebuah tantangan. Daniel memutar dan mengantar Katrine pulang. Hailai masa lalunya. Sejak cabut dari rumah belum pernah dia masuk ke Club lagi, bahkan sengaja menjauhi tempat-tempat yang dulu merupakan langganannya.
“ Singgah dulu?” tanya Katrine ketika tiba di rumahnya.
“ Lain kali aja, Kat. Udah malam. Aku langsung pulang. ” tolak Daniel, Katrine melambaikan tangan dan masuk ke rumahnya. Daniel segera cabut.
Semakin lama Daniel semakin dipercaya oleh Ko Asui. Kini Daniel menangani pembukuan, penyetoran uang, dan pembayaran tunai. Sesekali jika sibuk Ko Asui mengutus Daniel menemui Distributor dan Pabrikan. Daniel mulai mengenal seluk beluk perdagangan ATK, sedangkan Ko Asui yang merasa tokonya bisa ditinggalkan, kini mencari pelanggan baru ke Bandung, Semarang dan Surabaya. Usaha Ko Asui semakin meluas dan melebar.
“ Dan ! Malam minggu nanti kuliah engga?” tanya Ko Asui pada suatu sore.
“ Nggak.” jawab Daniel yang sibuk membukukan transaksi hari itu. Selama ini Ko Asui belum tahu Daniel sudah mempunyai 2 kios karena Daniel tak pernah bercerita. Ko Asui mengira barang yang dibeli Daniel dan Roni itu dijual di pinggir jalan atau di jembatan penyeberangan, tak tahu kalau Daniel dan Roni sedang merencanakan kios ke tiga.
“ Punya waktu luang, Dhan?”
“ Punya. Ada apa, Ko ?”
“ Anakku ulang tahun, sweet seventeen. Saya ingin mengundangmu ke pestanya di Ibis Mangga dua.”
“ Kapan, Ko ?”
“ Malam minggu nanti.”
“ Baiklah, saya akan hadir.” Kata Daniel meneruskan pekerjaannya. Dia sama sekali tak tahu anak Ko Asui yang mana yang berulang tahun. Setahunya anak Ko Asui ada dua, dan cewe semua.
Hari sabtu pulang kerja Daniel langsung pulang ke Tanjung Duren. Kini mereka tidak kost lagi. Ibu kost marah-marah gara-gara mereka menumpuk barang berkardus-kardus sehingga mengganggu anak kost lain. Daniel dan Roni tahu diri. Keuangan mereka sudah membaik. Mereka mengontrak sebuah rumah di daerah yang berdekatan dengan kios mereka. Rumah itu selain menjadi gudang juga menjadi tempat mangkal beberapa teman kost yang berasal dari daerah. Mahasiswa-mahasiswi itu belajar, becanda, main gaple atau tiduran di sana. Kontrakan itu dua lantai; dua kamar di atas dan empat di bawah. Roni dan Daniel tinggal di lantai atas, sedangkan kamar di bawah ditempati teman-temannya yang malas pulang.
Daniel mandi sambil bersiul-siul. Dia berpakain rapi, lalu singgah ke kios kedua di Kyai Tapa. Kios itu di kelola oleh Maya, seorang rekan mahasiwi dan seorang pekerja.
“ Bagaimana penjualan hari ini ?” tanya Daniel. Maya sedang sibuk membantu mengopy karena kios sedang ramai.
“ Bagus.”
“ Nanti kamu serahkan penjualan hari ini sama Roni ya, May, Aku ada perlu sehingga tidak ke mari lagi.” Pesan Daniel.
“ Beres bos !” jawab Maya sambil tersenyum. Daniel berlalu. Maya mahasiswi yang berasal dari Indramayu. Sebelum bergabung dengan RD, Maya bekerja sebagai SPG toko busana di Citraland. Penghasilan yang ditawarkan Daniel lebih bagus sehingga Maya cabut dari pekerjaan sebelumnya. Bahkan kini Maya tinggal di rumah kontrakan RD bersama Latifa. Latifa bekerja membantu Roni di Tanjung Duren.
Daniel tak mau membawa motor. Gengsi ke hotel membawa motor. Parkirnya susah. Di Lobby Ibis dia menanyakan tempat pesta pada resepsionis. “ Ruang apa yang ada pestanya, mbak ?”
“ Ada dua pesta ultah. Bapak diundang oleh siapa, pak ?” tanya resepsionis.
“ Aduh, Saya lupa menanyakan nama yang berulang tahun. Gimana, ya ?.” Daniel menggaplok kepalanya.
“ Nggak tahu namanya kok kamu di undang?” tanya Resepsionis heran.
“ Yang ngundang aku bokapnya. Oh ya, bokapnya namanya Ko Asui, alamatnya di jalan Mawardi.”
“ Nggak ada yang namanya Ko Asui. Kedua tempat pesta itu dipesan atas nama Alexander Kho dan Bapak Bimantoro.” Jelas resepsionis itu.
“ Bimantoro pemilik dealer mobil ?” tanya Daniel meminta kepastian.
“ Ya.” Jawab resepsionis itu. Daniel menggaplok kepalanya. Baru dia ingat 2 hari yang lalu juga merupakan hari ulangtahunnya Hendri. Pasti Hendri sengaja memundurkan pestanya agar bertepatan dengan malam minggu. Kenapa bisa begini kebetulan ?
“ Oke, bapak Alexander Kho itu pestanya di ruang apa ?” Tanya Daniel. Keren juga nama Ko Asui yang mengindonesia.
“ Ruang Mahakam, lantai 16.” ‘
“ Makasih.” Daniel berjalan ke lift. Dia berdoa semoga tidak berpapasan dengan anggota keluarganya. Lift berhenti di lantai 16. Daniel berjalan keluar dari lift.
Ruang pesta sudah ramai. Ia melirik jam tangannya. Sudah jam 8 malam.
Daniel berseliweran dengan orang orang yang tak dikenalnya. Kebanyakan seusia anak SMU. Ia diundang oleh Ko Asui. Hanya Ko Asui yang dikenalnya di pesta ini. Ia berusaha menemukan Ko Asui. Ko Asui alias Alexander Kho.
Akhirnya dia melihat Ko Asui sedang duduk di sebuah meja bersama istrinya dan beberapa orang yang tak dikenalnya. Daniel menuju meja itu dan menyalami Ko Asui.
“ Selamat malam, pak Alexander.” ucap Daniel dengan full senyum.
“ Akh, kamu mengada-ada saja, panggil aku Ko Asui saja. Alexander Kho itu hanyalah sebuah proses yang harus dijalani ketika mengurus SBKRI, tak ada yang kenal Alexander Kho. Ko Asui lebih enak didengar.” Jelas Ko Asui sambil tertawa. Daniel juga menyalami Nyonya Asui. Sekarang dia ragu, Ko itu panggilan atau marga ? Daniel mendengar beberapa orang memanggil Nyonya Asui dengan sebutan ci Lina. Enci Lina… ci Lina. Daniel berusaha mengingat nama itu agar lain kali jangan salah panggil.
“ Kenalkan, ini anak buah saya yang terbaik, Daniel !” Ko Asui mengenalkan Daniel pada orang-orang yang duduk di meja itu. Daniel menyalami mereka satu persatu. Mungkin semua itu kerabat atau rekan bisnisnya Ko Asui.
Ko Asui menarik Daniel agar mengikutinya. “ Ganteng juga kamu kalau berpakaian rapi !” puji Ko Asui.
“ Akh, Ko Asui bisa saja.” jawab Daniel jengah.
“ Saya kenalkan dengan putriku,” kata Ko Asui. Mereka menuju kerumunan cewek yang kelihatan asik sedang membincangkan sesuatu. “ Permisi,” kata Ko Asui pada cewek-cewek itu. Cewek-cewek itu menyingkir sehingga tinggal seorang gadis yang berpakaian pesta yang sangat indah. “ Ini, putriku “ kata Ko Asui pada Daniel.
Daniel mengulurkan tangan. “ Daniel,”
“ Melinda,” gadis itu menyambut malu malu.
Bersambung…

