SASKIA duduk di atas pembaringan dengan bersandar pada kepala tempat tidur. Susah payah ia berusaha memfokuskan konsentrasinya pada buku yang tergelar di hadapannya. Huruf-huruf dan kalimat yang tersusun rapi di buku tebal tersebut seolah hilang dari pandangan mata, menguap berterbangan begitu saja.
Jauh-jauh hari sebetulnya Saskia sudah bisa menebak akan seperti apa hari-harinya sewaktu memutuskan untuk tinggal bersama om dan tantenya. Ah, mungkin lebih tepat bukan memutuskan. Tetapi memang sudah tidak ada pilihan lain.
Ibunya pergi meninggalkan ayahnya dua tahun yang lalu, kabur dengan lelaki lain saat bisnis ayahnya yang sudah puluhan tahun digeluti terpaksa gulung tikar. Karena simpanan yang ada tak cukup untuk membayar kredit, rumah dan mobil mereka disita bank yang meminjamkan kredit.
Ayahnya terpaksa mengontrak rumah. Mungkin karena didera stress dan kesedihan yang mendalam ditinggal istrinya, suatu malam ayahnya mendadak terserang serangan jantung dan jatuh di kamar tidur. Saskia memekik meminta pertolongan ketika ayahnya tidak bangun-bangun lagi.
Tetangga yang berdatangan kemudian membantu membawa tubuh ayahnya yang sudah kaku ke rumah sakit. Meninggalkan Saskia seorang diri tanpa simpanan dan asuransi, Saskia yang masih duduk di akhir kelas Sekolah Menengah Atas itu benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.
Adik dari ayahnya, Hadian, yang akhirnya menawarkan bantuan. Ia meminta ijin kepada istrinya untuk memperbolehkan Saskia tinggal bersama mereka.
“Kasihan Saskia, Las. Dia boleh dibilang sebatang kara sekarang. Kakak aku meninggal, kakak iparku pergi begitu saja tanpa menghiraukan anaknya, ” Hadian memberi pengertian kepada Lastri, supaya istrinya itu mau menerima usulannya.
“Sewaktu kakakmu kaya, mana pernah dia mencari kita.. Sekarang dia sudah tidak ada, anaknya disodorkan ke sini..” sergah Lastri sengit.
“Tapi, Las..”
“Kalau dia mau tinggal di sini, ponakanmu itu harus menuruti aturan di rumah ini,” potong Lastri tegas. “Dia harus mau turun tangan membantu melayani tamu restoran.”
“Sudahlah, Las. Kita sudah banyak pelayan. Kita tampung dia bukan untuk kita jadikan pembantu, bukan?” cetus Hadian kurang setuju.
Lastri mendelik. “Tidak bisa! Kalau tidak mau membantu, ponakanmu itu tidak perlu tinggal di sini. Tidak ada yang makan gratis di sini. Semua harus kerja! Tak terkecuali ponakanmu!” sahut Lastri sengit menutup pembicaraan, tidak mau menawar lagi.
Hari-hari Saskia berubah ketika ia pindah ke rumah Hadian. Ia harus segera menyesuaikan diri dengan keluarga pamannya. Dengan tante Lastri yang kurang begitu berkenan dengan kehadiran dirinya. Belum lagi dengan Alena, anak Hadian yang umurnya seusia Saskia.
Sebagai anak tunggal keluarga Hadian, sejak kecil Alena sangat dimanjakan. Terutama oleh ibunya. Meski Hadian tidak sekaya konglomerat, tetapi boleh dibilang apa pun yang diminta oleh Alena sebisa mungkin dipenuhi oleh kedua orang tuanya.
Taraf kehidupan Saskia sebenarnya tidak terlalu jauh berbeda dengan Alena ketika ayah Saskia masih berada di puncak kegemilangan. Sebagai anak tunggal Saskia juga bisa mendapatkan apa saja yang ia minta. Bedanya dengan Alena, kedua orang tua Saskia tidak begitu memanjakan anaknya. Dan mungkin juga Alena bukan tipe gadis manja. Ia lebih suka menghabiskan waktu dengan membaca buku daripada keluyuran seperti halnya gadis-gadis seumuran.
Ibunya sangat cantik menawan. Tinggi semampai dengan tubuh yang masih langsing meski sudah berumur empat puluhan, orang-orang suka terpesona melihat kemolekan tubuhnya. Dadanya juga masih ranum berisi. Tidak sia-sia ibunya merawat badannya dengan begitu telaten selama ini. Hasilnya mengundang decak kagum semua orang yang melihatnya. Sekaligus mengundang iri perempuan mana pun yang memandang raut wajah dan badannya yang masih mungil meski anaknya sudah hampir lulus sekolah.
Saskia tidak tahu pasti, tapi barangkali modal kecantikan itu pula yang membuat kesetiaan ibunya mulai luntur ketika ayahnya bangkrut dan harus menghadapi satu persatu orang yang datang ke rumah untuk menagih hutang.
Ketika suatu saat mereka mulai kesulitan membeli beras, ibunya pun cepat memutar otak , berusaha supaya asap dapur mereka tetap mengepul. Cara pintas yang terlintas seketika adalah menggunakan bakat yang sudah ada sejak masa gadis tetapi tidak sempat dikembangkan lebih lanjut. Ibunya mulai mencari job melalui teman-teman bergaulnya selama ini, memperdengarkan suara emasnya di beberapa pub yang kebanyakan pengunjungnya orang asing dengan warna kulit oriental.
Kehidupan mereka sedikit berubah membaik ketika job ibunya mulai banyak. Tetapi perubahan itu tidak hanya pada kehidupan mereka. Perangai ibunya pun ikut berubah. Ibunya lebih banyak berdandan, penampilannya pun sangat gemerlapan. Harum parfum yang dipakai bisa tercium sampai seisi rumah, membuat Saskia sering kali pusing kepala dengan semerbak aromanya.
Bukan itu saja, ibunya mulai pulang larut malam. Kadang-kadang dini hari. Diantar pulang dengan mobil yang berbeda-beda setiap malam. Sampai suatu ketika ibunya mulai jarang pulang. Dan semenjak itu, suasana rumah sudah tidak setenteram sebelumnya.
Ayahnya yang sudah tidak mempunyai aktifitas, melewatkan seluruh waktunya di rumah hanya dengan makan dan tidur, mungkin membuat lelaki itu lebih gampang stress dan lekas naik darah.
Pertengkaran demi pertengkaran sering sekali didengar Saskia. Kalau bukan tengah malam pada saat ibunya pulang diantar tamu. Kadang-kadang dini hari. Atau pagi-pagi sekali ketika Saskia akan berangkat ke sekolah.
Dan pertengkaran itu selalu diikuti dengan barang-barang yang ikut rusak atau piring dan gelas yang pecah berhamburan di lantai.
Saskia selalu mendapati ibunya menangis sesunggukan di kamar. Atau menyeka air matanya ketika sedang makan di ruangan keluarga.
Suatu hari ibunya menghampiri Saskia di kamar tidur. Dalam buaian tidurnya, di antara ambang kesadaran, Saskia masih bisa merasakan belaian tangan ibunya yang halus membelai pelan rambutnya yang panjang.
Lamat-lamat ia seperti mendengar suara isak tangis tertahan ibunya, samar-samar menyerupai ratapan bercampur desahan.
Sejak itu Saskia tidak pernah melihat ibunya lagi. Ibunya menitipkan sejumlah uang dalam amplop untuk dirinya dengan sebuah surat kecil di pinggir ranjang.
Saskia menangis semalaman ketika mengetahui ibunya pergi meninggalkannya begitu saja. Tetapi sampai air matanya kering dan ia meratap kelelahan pun ibunya tidak akan kembali lagi. Ibunya tidak meninggalkan alamat apa-apa, hanya mengatakan pergi dengan seorang teman lelaki ke Hongkong, ingin menutup semua kenangan pahitnya dan mencari kerja di sana.
Sejak kepergian ibunya, ayah Saskia semakin murung. Setiap hari ia hanya melewatkan waktunya di kamar, menonton saluran TV. Beberapa kali Saskia berusaha mengajaknya berbicara, tetapi ayahnya lebih memilih ditinggal sendirian di kamar.
Saskia tidak pernah memikirkan lagi waktu bersenda gurau dengan teman-temannya. Sama halnya ia tidak pernah membayangkan memiliki seorang lelaki yang menjemputnya di rumah setiap malam minggu seperti kebanyakan sahabat-sahabatnya di sekolah.
Persoalan kedua orang tuanya sudah membuat pikirannya begitu kalut dan menenggelamkan keinginannya untuk bertingkah laku seperti teman-teman sekolahnya. Ia harus lebih banyak di rumah, menemani ayahnya supaya lelaki paruh baya itu tidak terlanjur depresi.
Hingga kemudian suatu hari pihak bank datang ke rumah membawa surat sita yang membuat ayahnya terperangah membacanya. Pihak bank sudah tidak bisa memberikan keringanan. Ayahnya hanya diberikan pilihan, melunasin semua hutang dengan tawaran cicilan yang disepakati, atau menyerahkan rumah yang dijadikan jaminan kepada bank.
Tidak ada saudara yang membantu. Saskia dan ayahnya terpaksa harus pindah dari rumah yang sudah ditempatin selama puluhan tahun tersebut, dan dengan sisa-sisa uang yang ada mengontrak sebuah rumah kecil di pinggiran Jakarta. ** BERSAMBUNG ***

