Akhmad Sekhu lahir di desa Jatibogor, Suradadi, Tegal, besar di "Kota Budaya" Yogyakarta, kini hijrah ke "Kota Gelisah" Jakarta, yang insya Allah dalam hidupnya ingin selalu berkarya. Menulis berupa puisi, cerpen, novel, esai sastra-budaya, resensi buku, artikel arsitektur-kota, kupasan film-musik, telaah tentang televisi di berbagai media massa, juga banyak mengerjakan penulisan buku biografi karier dan kisah kehidupan, kini bekerja sebagai wartawan Majalah Film MOVIEGOERS.
“Aku duluan, Mar!” Ardi tampak melambaikan tangan sebelum turun dari angkot colt itu.
“Ya,” Marhamah menjawab singkat.
Angkot colt melaju lagi, yang sepanjang perjalanan tetap menaikan maupun menurunkan penumpang karena memang demikianlah angkutan umum yang murah-meriah melayani masyarakat banyak. Tampak Marhamah masih duduk dengan wajah penuh kegelisahan melempar pandang ke kiti-kanan jalan tanpa tujuan maksud pandangan tersebut. Sampailah di Stasiun Depok Baru, Marhamah pun segera turun dari angkutan umum itu.
Suasana Stasiun Depok Baru pagi itu tampak sudah penuh oleh para penumpang yang menuju Jakarta kota. Membeli karcis lebih dulu baru kemudian Marhamah masuk melalui pintu peron dan kemudian duduk di kursi tunggu bersama para penumpang lain menunggu kereta tiba. Jadwal keberangkatan kereta selalu tidak tepat waktu, yang kadang cepat dan kadang lambat, tapi memang lebih sering lambatnya karena begitulah perusahaan jawatan kereta yang kini sudah perseroan terbatas. Marhamah cukup lama menunggu datangnya kereta. Ada sekitar seperempat jam termasuk lama juga menurut ukuran dirinya yang sibuk buru-buru mengejar waktu untuk cepat sampai ke kantor jam delapan tepat.
Beberapa saat kemudian dari kejauhan tampak kereta bergerak mendekat. Marhamah bersama penumpang lain yang sudah lama menunggu itu tampak kini bersiap-siap dengan kedatangan kereta. Ya, karena tepat ketika kereta berhenti langsung diserbu begitu banyak penumpang yang berebut masuk. Waktu seperti itu adalah waktu yang paling rawan kejahatan, dimana para pencopet begitu mudahnya beraksi. Marhamah jadi ingat dirinya dulu pernah kecopetan ketika masuk dengan cara seperti itu, makanya ia sekarang menanti waktu yang tepat ketika kereta akan berangkat.
Detik-detik menjelang keberangkatan kereta pas sekali ketika para penumpang sudah tidak berebut masuk, Marhamah baru melenggang masuk ke dalam untuk kemudian berbaur dengan mereka yang penuh berjejalan di dalam kereta. Aroma parfum bercampur dengan bau keringat begitu menyengat adalah biasa terjadi dalam kereta. Tidak ada yang memencet hidung karena semua penumpang merasa sudah senasib dalam satu atap kereta. Disini tidak ada gengsi merasa diri paling hebat atau keangkuhan apa pun karena semua sama dalam satu kereta.
Para asongan lincah menawarkan dagangan keluar dan masuk gerbong di antara sela-sela para penumpang adalah pemandangan biasa dalam kereta. Barang-barang yang mereka tawarkan, seperti peniti, penjepit rambut, lem, bandano, pin, dan lain-lain, rata-rata harganya seribuan. Entah, marketing apa yang digunakan para asongan itu, Marhamah bertanya-tanya hanya dalam hati, betapa ia begitu heran mengapa mereka tetap masih bisa hidup dan bertahan sampai detik hari ini dengan hanya berdagang seperti itu. Sungguh, kenyataan pedagang kecil seperti itu sebenarnya bisa dijadikan cermin bagi para tauke, pedagang kakap agar tidak memopoli usaha mereka dan saling memberi ruang untuk kebersamaan hidup.
Ketika Marhamah begitu suntuk merenung, tampak seorang lelaki sedang mencuri-curi pandang pada dirinya. Matanya bagai tombak begitu tajam menatap Marhamah tak berkejap. Mata yang seperti minta perhatian dari dirinya, tapi bukankah lelaki yang harus lebih dulu berinisiatif mendekat, mengajak bicara dan akhirnya berkenalan? Jadi Marhamah tinggal menunggu saja inisiatif lelaki itu karena gengsi dan kurang lazim kalau perempuan yang memulai.
Sebenarnya, Marhamah sudah tahu kalau pemuda yang memperhatikan dirinya itu sejak ia duduk di kursi tunggu. Dilihat dari sisi penampilan, lelaki itu kelihatan seperti orang baik-baik, tapi kepribadian orang tidak hanya dilihat dari satu sisi saja, karena sekarang banyak penjahat yang berpenampilan rapi, bahkan lebih banyak lagi yang berdasi, yaitu para koruptor negeri ini yang berbuat kejahatan dengan sangat sopan.
SAMPAI GEDUNG GIBRAN, Marhamah berhenti sejenak di pelataran yang luas terbentang. Ia menghela nafas lega karena bisa selamat sampai di tempat kerja. Kemudian dirapikannya jilbab yang membungkus rambutnya karena terasa sedikit bergeser dari aktifitas kepalanya yang bergerak kiri-kanan, dan terakhir ia pun merapikan pakaian serapi mungkin.
“Sudah, sudahlah tampak rapi kok Mbak!” kata Lis, petugas cleaning service, yang ramah menyapanya dengan senyum manis.
Marhamah tersenyum membalas keramahannya. Itu tentu sudah cukup untuk tegur sapa di pagi penuh kesibukan. Lis kembali pada tugasnya menyapu pelataran yang sudah sebagian dibersihkannya, sedangkan Marhamah harus buru-buru masuk ke dalam gedung yang tinggi menjulang itu.
“Marhamah, tunggu, tunggu aku!” terdengar sebuah suara teriakan seseorang dari kejauhan menahan langkah Marhamah yang buru-buru masuk.
Rupanya seorang pemuda sebaya yang tadi berteriak tampak kelihatan hanya punggungnya sedang menunggu uang kembalian dari sopir taksi di depannya. Setelah mendapat kembalian, ia balik badan untuk kemudian langsung berjalan cepat-cepat menuju ke arah Marhamah, sedangkan sopir taksi yang tadi mengantarnya segera menjalankan taksi meluncur pergi. Pemuda itu adalah teman sekantor Marhamah jadi tentu saja harus ditungguinya sebagai bentuk kesetiakawanan.
(bersambung)…

