Mendengar cerita Indah soal pacar barunya, Meri tidak kaget. Sebagai sahabat lama, ia tahu betul sepak terjang Indah dalam dunia pacar-berpacaran. Seperti namanya, Indah memang benar-benar indah di hadapan lawan jenis. Tubuhnya bak gitar spanyol. Kulitnya mulus. Hidungnya mancung. Mudah saja baginya untuk dekat dengan siapapun. Setelah itu, ditinggalkannya mereka tanpa penyesalan.
“Yang ini serius, Mer. Bukan kayak dulu-dulu..”
“Dibandingkan Radit..?” selidik Meri.
“Radit nggak ada apa-apanya,” sahut Indah cepat. “Aku udah dikenalin sama mamanya. Beliau setuju kami pacaran. Artinya kan jalan udah terbentang. Tinggal menjalaninya. Kalo nggak ada halangan, kami mau nikah tahun ini.” Indah keliatan sumringah. Meri ikut tersenyum.
“Lalu Radit?”
“Besok aku ajak ngobrol,” ucap Indah pelan. “Kamu ikut yah?”
“Hah?? Nggak ah. Itu kan antara kamu dan Radit. Urusan kalian berdua. Kenapa harus bawa-bawa aku?” tolak Meri buru-buru.
Indah merengut. “Kamu kan kenal dia juga..”
“Tapi ini privasi kalian.. Masak aku disuruh ikut.”
“Merrrr…”
Meri bergeming. Baginya ini usulan konyol. Memang sih mutusin orang itu susah, tapi itu kan tanggung jawab Indah. Ia tidak mau menjadi wasit dalam hal semacam ini.
“Radit ngancam mau bunuh diri.”
Meri kaget untuk kedua kalinya. “Masak sih?!”
“Kalo nggak percaya, tanya Mama.” Indah menyodorkan handphonenya. Meri memang kenal dengan Mama dan Papa Indah.
“Radit sampai gitu? ” gumam Meri.
“Iya. Makanya aku bilang. Ini tuh sebenarnya sederhana. Radit itu nggak jelek-jelek banget. Fansnya banyak di kantor. Tinggal milih salah satu aja. Tapi dia kayaknya nggak mau melepaskan aku gitu aja. Aku capek..”
“Cinta kan ga bisa milih kayak gitu juga, Ndah. Emangnya belanja di supermarket.”
Indah mendorong bahu sahabatnya. “Paling nggak dia itu sadar. Kenapa sih bela-belain mencintai orang yang jelas-jelas nggak suka sama dia.”
“Eits, kamu pernah suka sama dia lho..”
“Iya, tapi itu kan dulu. Orang boleh berubah dong.”
Meri tidak menjawab. Persoalan tambah runyam dengan ancaman Radit tersebut.
“Kalo kamu ikut, paling nggak dia pasti merasa malu bertingkah aneh-aneh. Lagian aku dan dia kan emang nggak pacaran. Ini cuma penegasan hubungan aja. Besok ikut yah?” bujuk Indah.
Duh, Meri serba salah. Mau mengangguk, tidak ikhlas. Mau menggeleng, tidak tega.