Hunting Berita
INGAT Viviana Margaretha Fangi yang kabur, aku juga jadi ingat teman-teman lain di Pers Kampus. Mahasiswa-mahasiswa beragam motivasinya ikut kegiatan Pers Kampus ini. Malah, yang membuatku agak ‘ge-er’, kata Sri Asih, teman seangkatanku di unit kegiatan kampus ini, ada yang motivasinya hanya naksir aku. Oohh hatiku berdebar-debar mendengar pengakuannya.
Menjadi aktivis mahasiswa, memang menarik kalau ada bumbu-bumbu cerita cinta. Tapi untuk tidak menjadi kebablasan, cerita-cerita itu penting untuk diingat kembali di masa depan. Di HMI ada kisahnya sendiri, di Pers Mentari ini, tentu saja juga ada. Tinggal kapan aku mau menceritakannya.
“Tapi aku tidak mau bilang siapa dia,” kata Asih, “aku tidak ingin membuatmu ge-er saja. Cari saja sendiri siapa dia. Mudah sekali melihat cewek seperti ini.”
“Ah aku tidak peduli”. Saat itu aku memang tidak begitu peduli dengan hal-hal seperti itu. Bukan aku tidak menghargai perempuan, tetapi pikiranku jika meghadapi masalah-masalah seperti ini adalah ‘bagaimana mungkin menjalin hubungan dengan perempuan, sementara diriku saat ini hanyalah mahasiswa kutu-kupret yang tidak jelas masa depannya’. Jadi, ketika Asih memberikan beberapa obrolan soal cewek di UKM ini, ketertarikanku hanya sebatas menggoda dan mengimbangi pembicaraannya saja.
Selain Asih, ada teman-teman ‘unik’ lain yang wajahnya selalu cerah dan menggembirakan. Bersama Asih ini, kami sering berjalan-jalan sambil meliput berita. Asih orangnya memang unik lagi cerdas. Ia seperti mengetahui banyak hal, namun sepertinya juga pengetahuannya itu tidak tuntas. Kalau berdebat bersama-teman-teman ia selalu tidak pernah mau mengalah, usul-usul tema selalu ada dari benaknya. Tetapi ketika presentasi soal tema yang diajukannya itu, ia selalu berhenti mendadak. Walhasil, seabrek tema yang diajukan, selalu gagal menjadi tema utama kami. Yang paling sering ia tenteng adalah buku karangan Wiji Thukul, dan Soe Hok Gie.
Buku Wiji Thukul, yang berisi puisi ini ia selalu bacakan dihadapan teman-teman saat mempresentasikan idenya tentang tema penculikan mahasiswa dan aktivis 1998.
Begitu juga buku-buku karangan Soe Hok Gie yang ia bawa. Obrolan kami berlanjut di ‘hik’ warung kaki lima khas Solo. Sambil memilih lauk, tempe, sate kerang, bakwan, tahu, yang kamudian kami hangatkan di tungku hik, obrolan berlangung hangat.
Asih selalu bilang pada kami bahwa sebagai mahasiswa ia harus membela rakyat kecil. Ya.. rakyat kecil seperti dirinya juga. Saya tahu kadang-kadang anak ini memang memiliki idealisme tinggi membela masyarakat yang masih miskin. Katanya, hanya orang miskinlah yang paham soal kemiskinan dan ketidak-adilan. Baginya, negara ini memang tidak pernah ambil pusing dengan kemiskinan, seringnya rakyat kecil ditinggalkan. Buruh-petani harus dibela, katanya. Ujung-ujungnya aku tahu, anak ini memang suka berpemikiran “kekiri-kirian”. Ia merasa lebih cocok masuk PRD, Partai Rakyat Demokratik yang sempat ikut pemilu 1999.
Meski ia tidak menjadi pengurus teras di organisasi itu, simpatinya pada kegiatan ini cukup wajar. Belakangan ia malah membawa buku tentang sejarah pergerakan pemuda-pemuda dunia zaman abad ke-20 karya Yozar Anwar. Kemudian berusaha menjelaskan padaku bagaimana tema-tema Novel Pramoedya Ananta Toer yang banyak dan tebal-tebal itu.
Asih memprotes keras aksi pembakaran buku-buku kiri yang sempat dia perkenalkan padaku beberapa waktu dulu. Seperti opini-opini yang muncul waktu itu, ia mengatakan bahwa kalau memang tidak setuju dengan pemikiran sosialis atau kiri, mestinya tidak perlu melakukan pembakaran buku-buku ini. Membakar buku adalah tindakan bodoh, seperti yang pernah dilakukan oleh Mongol terhadap perpustakaan di Baghdad ratusan tahun lalu.
“Coba saja, kalau misalnya buku-buku di perpustakaan di Baghdad dulu tidak dibakari oleh tentara Mongol yang menyerbu di Irak, dunia ini sudah lebih maju seratus tahun,” sesal Asih.
“Kalian semua akan menyesal membakar ilmu. Ilmu itu sesungguhnya netral, tak perlu harus ditakuti. Kalau memang kalian takut dengan pencuri, pelajarilah ilmu mencuri supaya bisa menangkap pencuri. Jadi ilmu itu tergantung penggunaannya.”
Bersama Asih pula kami sering berdiskusi mengenai sejarah bangsa ini, termasuk keterlibatan paham kaum sosialis dalam memperjuangkan kemerdekaan. Asih juga fasih menjelaskan peran orang-orang sosialis, yang kebetulan didominasi oleh masyarakat Tionghoa. Sejarahnya memang panjang. Waktu kami berjalan-jalan sambil meliput keindahan panorama Kota Solo, kami berdua tidak mungkin untuk tidak kluyuran di daerah pecinan, benteng Vastenburg dan Istana Mataram Surakarta.
Setelah naik bis Atmo dari depan kampus, aku dan Asih, sambil menenteng tustel, turun di depan ‘reco ngGladag’. Mungkin hanya bis inilah yang tersisa, meskipun kami berharap masih menemukan bis tingkat khas Solo. Bis tingkat ini memang hanya menempuh rute Kartasura-Palur. Duduk di ‘lantai atas’ bis ini mengantar kami sampai kota sehingga sesekali kami bisa melihat kanan kiri jalan dari atas bis. Turun di Gladag, perjalanan hunting kali ini dimulai dari jalan-jalan menyusuri benteng Vastenburg yang waktu itu masih utuh dan belum roboh bangunan di dalamnya, aku memotret-motret sambil sesekali melihat kagum dengan benteng ini.
Setelah menyusuri reruntuhan Mall ‘Matahari mBeteng’ yang masih belum dibangun lagi pasca-Mei 1998, aku dan Asih menyusuri Alun-alun Lor dan memasuki sitihinggil kraton dan masuk ke museum kraton. Sambil membeli blangkon khas Solo, aku dan Asih, bahkan diizinkan masuk ke perpustakaan kuno kraton ini. Asih yang memakai celana jeans, diwajibkan memakai kain yang menutupi celana jinsnya. Ada beberapa Koran Kuno seperti Soerabaiasche Niews Handelsblad, Nieuwe Vorstenlanden dan lain-lain, yang aku sendiri tidak begitu ingat. Tumpukan koran itu sebenarnya sudah dijilid, tetapi karena usia, mereka lapuk dan kotor sekali, tidak terawat dan penuh debu.
Sepanjang jalan Asih mengajak berdiskusi tentang keterlibatan Sarekat Dagang Islam (SDI) tahun 1905 yang lahir di Surakarta. Sarekat Dagang Islam tumbuh dan berkembang dari Rekso Roemekso yang didirikan oleh Haji Samanhoedi bersama beberapa saudara, teman dan pengikutnya. Rekso Roemekso adalah sebuah perkumpulan tolong-menolong untuk menghadapi para kecu yang membuat daerah Laweyan tidak aman. Oleh karena itu, organisasi tersebut, seperti yang diperlihatkan oleh namanya, ’penjaga’, adalah sebuah organisasi yang bertugas mengawasi keamanan daerah.
Di bawah pimpinan Haji Samanhoedi perkumpulan ini berkembang pesat hingga namanya diubah menjadi Sarekat Islam (SI). Hal ini dilakukan agar organisasi ini tidak hanya bergerak dalam bidang ekonomi, tapi juga dalam bidang lain seperti politik. Walaupun dalam anggaran dasarnya tidak terlihat adanya unsur politik, tapi dalam kegiatannya SI menaruh perhatian besar terhadap unsur-unsur politik dan menentang ketidak-adilan serta penindasan yang dilakukan oleh pemerintah kolonial. Artinya SI memiliki jumlah anggota yang banyak sehingga menimbulkan kekha-watiran pemerintah Belanda. Keanggotaan SI terbuka untuk semua lapisan. SI berkembang pesat, pada waktu diajukan sebagai Badan Hukum, Gubernur Jendral Idenburg menolak. Badan Hukum hanya diberikan pada SI Lokal. Dengan perubahan waktu akhirnya SI pusat diberi pengakuan sebagai Badan Hukum pada bulan Maret tahun 1916. Setelah pemerintah memperbolehkan berdirinya partai politik, SI berubah menjadi partai politik dan mengirimkan wakilnya ke Volksraad tahun 1917.
SI mengalami perkembangan yang lebih pesat dibandingkan Budi Oetomo dan mulai disusupi aliran Revolusioner Sosialis. SI tidak membatasi keanggota-annya hanya untuk masyarakat Jawa dan Madura saja. SI sebagai organisasi besar akhirnya terpecah setelah disusupi oleh orang-orang yang telah dipengaruhi oleh paham sosialis. SI pecah menjadi SI Putih yang dipimpin oleh HOS Tjokroaminoto dan SI Merah yang dipimpin Semaoen.
“Jadi, tahu kan kamu Na’im, sebenarnya kegiatan-kegiatan sosial inilah yang mengilhami perkumpulan ini. Organisasi modern bangsa ini awalnya ya SDI ini, bukan Boedi Oetomo.” jelas Asih.
“Oh ya. Kamu mau mengatakan bahwa hari kebangkitan nasional mestinya tanggal lahir SDI kan?” jawabku.
“Bukan begitu, tapi sejarah memang tak boleh dilupakan. Tanggal kebangkitan nasional, bagiku bisa kapan saja, boleh hari lahir Boedi Oetomo atau hari lahir siapa saja, tanggal itu hanya peringatan saja bahwa bangsa ini memiliki kesadaran bersama yang perlu selalu diingat. Mungkin dulu perdebatan tanggal ini penting, tapi sekarang ini mungkin orang tak begitu peduli lagi bagaimana tanggal itu muncul, saat ini bangsa ini sudah tidak senasib lagi seperti dulu”
“Maksudmu?”
“Kebangkitan nasional ada karena perasaan senasib dijajah Belanda. Tapi sekarang, apa kita senasib lagi? Kita banyak mengalami ketimpangan ekonomi, sosial, kesejahteraan, sentralisasi kekuasaan dan banyak hal yang membuat kita tidak senasib lagi sebagai bangsa. Mungkin pantas saja Papua, Aceh, dan daerah-daerah tertinggal lainnya minta merdeka, sebab keterting-galannya dengan Jawa sangat jauh. Apa makna kebangkitan nasional bagi mereka sekarang? Apa sekedar tanggal lahir Boedi Oetomo atau SDI saja?”
“Ya.. Mungkin perlu ada hal baru dengan makna kebangkitan, kalau perlu ada hari kebangkitan baru, bangkit untuk melakukan desentralisasi, haha..”
Akhirnya kami menemukan bis tingkat yang membawa kami pulang ke kampus. Bis ini memang makin jarang, mungkin hanya dua atau tiga bis yang masih dioperasikan di Solo. Duduk di lantai atas bis ini, apalagi kalau agak di sisi kiri, kadang harus menghindari dedaunan yang nyelonong masuk lewat pintu jendela bis. Tapi kami tidak terganggu, kami terus ngobrol kesana kemari sambil menyeruput es degan yang dibungkus plastik di Pasar Klewer tadi.
Di Pasar Klewer memang khas pemandangannya. Suasananya juga khas, ’djadoel’ banget. Seringkali,kalau melewati tempat ini, ada sebuah mobil pick-up di pojok alun-alun lor, tepat di pintu gerbang pasar, yang memasang toa tinggi dan menyetel kaset jualan obat panu dan sebagainya. Dengan gaya khasnya, penjaja obat ini, melalui rekamannya di kaset ini memekakkan telinga para pengunjung pasar. Untuk yang ini, nampaknya anda harus membuktikan sendiri kekhasan pasar ini.
Tak terasa obrolan kami berlanjut terus hingga pulang kembali ke kampus. Di depan Hani dan Wahyu sudah menunggu kami di kantor. Kami akrab. Namun, tiba tiba begitu mendekat pada Hani dan Wahyu, Asih sungkan dan agak menjauh dariku, juga Wahyu. Awalnya aku tidak menyadari itu, sejauh ini kita tidak ada masalah. Nampaknya, menjauhnya mereka adalah memberikan kesempatan padaku dan Hani untuk berduaan saja. Beberapa saat kemudian aku baru berfikir, terutama tentang ucapan Asih beberapa waktu sebelumya, bahwa ada yang naksir meski tak berusaha membuatku ge-er. Ooh, Hani rupanya. Hani menurutku mudah bergaul, supel tetapi terlalu malas bicara masalah politik, sosial, kecuali ekonomi yang memang menjadi jurusan kuliahnya. Hani cantik semampai, orang-orang mengatakannya, ia pantas menjadi Putri Indonesia, atau kalaupun tidak, ya sekedar Putri Kampus pun tak masalah. Mungkin artis yang cocok menjadi referensinya adalah ‘Luna Maya’.
Pas kedatangan kami, Wahyu yang ngobrol dengan Hani, tiba-tiba menghentikan percakapannya dan mendehem pamit. Begitu pula Asih. Ini membuat Hani tak enak hati, begitu pula aku.
“Ehm.. Aku ke toilet dulu yah,” kata Wahyu.
“Aku juga,” Asih juga tiba-tiba.
Untuk menormalkan suasana, aku menyahut, “Jangan di toilet yang sama lho! Toilet juga ada jenis kelaminnya.”
Penyair asal Solo, Jawa Tengah, Wiji Thukul dianugerahi Yap Thiam Hien Award 2002. Wiji Thukul yang hilang sejak tahun 1998, dibesarkan dalam lingkungan keluarga tukang becak. Ia mulai aktif menulis puisi sejak di bangku SD. Kemudian sudah mulai tertarik pada dunia teater ketika SMP. Setelah itu, ia melanjutkan sekolahnya sampai Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) jurusan tari. Tapi karena kesulitan uang, hanya sampai kelas dua. Simak satu baris puisi “Peringatan” yang ditulis Wiji Thukul (1986): Apabila usul ditolak tanpa ditimbang/suara dibungkam, kritik dilarang tanpa alasan/dituduh subversif dan mengganggu keamanan/maka hanya ada satu kata: lawan! Juga puisinya berjudul Satu Mimpi Satu Barisan (1992): tak bisa dibungkam kodim/tak bisa dibungkam popor senapan/satu mimpi/satu barisan.
Soe Hok Gie (17 Desember1942–16 Desember1969) adalah salah seorang aktivis Indonesia dan mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia Jurusan Sejarah tahun 1962–1969. Buku hariannya kemudian diterbitkan dengan judul Catatan Seorang Demonstran (1983). Juga skripsi sarjana mudanya perihal Sarekat Islam Semarang, tahun 1999 diterbitkan Yayasan Bentang dengan judul Di Bawah Lentera Merah. Sebelumnya, skripsi S1-nya yang mengulas soal pemberontakan PKI di Madiun, juga sudah dibukukan dengan judul Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan (Bentang, 1997).
Partai Rakyat Demokratik disingkat PRD adalah salah satu partai politik yang lolos pada Pemilu 1999. Sejarah panjang partai ini bisa dilihat dari tuduhan-tuduhan Orde Baru terhadap banyak lahirnya Organisasi Tanpa Bentuk (OTB) pada tahun 1990-an.
Yozar Anwar, Pergolakan Mahasiswa Abad Ke-20; Kisah Perjuangan Anak-Anak Muda Pemberang, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta 1981.
Pramoedya Ananta Toer, lahir di Blora, Jawa Tengah, 6 Februari 1925–30 April 2006 pada umur 81 tahun. Secara luas ia dianggap sebagai salah satu pengarang yang produktif dalam sejarah sastra Indonesia. Pramoedya telah menghasilkan lebih dari 50 karya dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 41 bahasa asing. Misalnya Bumi Manusia (1980); dilarang Jaksa Agung, 1981; Anak Semua Bangsa (1981); dilarang Jaksa Agung, 1981; Rumah Kaca (1988); dilarang Jaksa Agung, 1988; Arok Dedes (1999); Jalan Raya Pos, Jalan Daendels (2005) dan lain-lain.
Bus Tingkat merupakan bus yang memiliki dua lantai sehingga jumlah penumpang yang dapat diangkut bisa mencapai dua kalinya bus solo/bis lantai tunggal. Bus tingkat pernah poluler digunakan diberapa kota di Indonesia seperti di Jakarta, Surabaya, Solo, Makassar. Bus Tempel pada awalnya dikembangkan di kota London di Inggris, kemudian banyak dipakai di Hongkong, Singapura, Sri Langka, Kanada, Jerman dan belakangan ini banyak digunakan untuk bus pariwisata dan ada pula yang tidak diberi atap pada lantai duanya sehingga wisatawan mempunyai pandangan yang lebih bebas di lantai duanya. Di Solo bis ini beriperasi sejak tahun 1980-an dan berakhir pemkaiannya pada tahun 190-an akhir. Bis ini khas. Konon ceritanya bis ini adalah hadiah dari sebuah negara di Eropa yang diberikan pada Presiden Soeharto, lantas bis ini beroperasi di Solo, kota tempat asal istrinya, Ibu Tien.
Berbagai surat kabar yang terbit di Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Makasar, Manado, dan Medan pada pertengahan abad ke-19, dapat dilihat di kraton ini. Beberapa nama koran besar di masa itu antara lain adalah: Bataviaasch Nieuwsblad, Nieuws van de Dag, Java Bode (Batavia), Preanger Bode (Bandung), De Locomotief (Semarang, semula Samarangsche Nieuws en Advertentieblad), Nieuwe Vorstenlanden (Solo), Soerabaiasche Courant (Surabaya, semula Oostpost), Makassararsche Courant (Makassar), Tjahaja Siang (Manado), Sumatra Post (Medan), dan Soematra Bode (Padang). Selain itu, telah mulai hadir pula berbagai surat kabar dalam bahasa melayu (sebelum kemudian menjadi bahasa Indonesia sejak 1928.) Surat kabar berbahasa melayu yang populer pada masa itu antara lain adalah Medan Moeslimin, Medan Prijaji, Sinar de Jawa, Sinar Terang, dan Soerat Kabar Minggoean. Kebijaksanaan kontrol informasi yang diterapkan sangat ketat oleh pemerintah Hindia Belanda pun membuat surat kabar tidak dapat menjalankan fungsinya secara penuh sebagai lembaga pemberita. Peran Pers Indonesia sebagai alat politik baru muncul pada awal abad ke 20 seiring dengan kegerakkan kebangkitan nasional dan lahirnya ordonasi pers yang mengatur pembredelan surat kabar.

