Pertemuan dengan seorang gadis aku awali di bendungan brubus, bendungan besar daerah Madiun. dengan wajah yang imut dan baju merah seakan dia telah membuatku linglung. Mungkinkah ini cinta pertamaku, atau hanya cinta yang akan berlalu begitu saja. Aku hampiri prempuan itu seraya brtanya.
“Maaf mbak boleh kenalan gak?”
“Hem boleh aja mas, tapi apalah arti sebuah nama bagimu?”
“Sebagai sebuah identitas resmi mbak, bahwa kita adalah manusia he” jawabku melucu.
“O gitu namaku Sinta, mas sendiri?”
“Riyan saja” Jawabku sambil nyengir.
Perkenalan itu berlangsung lama, hingga kita tukaran no Hp. karena hari mulai sore dia putuskan untuk pulang, “aku pulang duluan ya Yan?” “Ya Sin jawabku” sedangkan aku tetap menikmati indahnya bendungan itu sambil melihat orang-orang mancing. Anak kecil seolah sudah lihai dalam memancing, setiap kali dia melempar pancingnya langsung strage. Semakin sore pemandangan bendungan semakin asik sayang untuk di lewatkan.
Ternyata adzan Maghrib menyapaku dengan lantunan suara yang merdu, akhirnya aku bergegas untuk pulang dengan sepeda tuaku. Jarak rumahku tak begitu jauh dari bendungan itu, hingga tak butuh waktu lama aku untuk sampai di rumah.
Bergegas mandi lalu solat, sekalian menunggu isyak menyapa, aku sambil memaenkan Hp jadulku. Seketika aku teringat sosok gadis yang aku ajak kenalan tadi, tapi aku masih ragu untuk menyelami dunianya. Mau tak mau karena ini adalah kehendak hatiku, aku beranikan telfon dia. Aku pencet tombol hijau kiri sambil menunggu satu menit kemudian diangkat. Tapi aku gugup untuk bicara. Spontan aku menyapanya.
“Lagi apa nie Sin, maaf ya kalau ganggu?” sapaku sok akrab.
“Lagi nunggu isyak nie Yan. Kamu sendiri?”
“Sama donk, aku juga nunggu isyak”
“Berarti kita sehati donk” nadanya menggoda.
“Hahah kamu ada-ada aja Sin, jadi gr aku he.he” Jawabku PD.
“Uda isyak sholat dulu yuk Yan” ajaknya.
Isyak kali ini benar-benar menyapa aku langsung bergegas sholat, dan mungkin dia juga sama denganku mendirikan sholat isyak. Dalam sholatku wajahnya seolah hadir, selesai sholat aku malah bingung kenapa aku memikirkannya? Mungkinkah aku sedang jatuh cinta? Jika aku jatuh cinta sama dia mungkinkah dia juga merasakan hal yang sama? tanyaku dalam hati.
Malam itu aku lalui dengan banyak tanya, dan tak membiarkan malam berlalu begitu saja. Dia seolah telah menghatuiku hingga pagi menyapa, sedang kantukku tak kunjung datang, dengan senang hati akupun tak tidur. Malam yang menyenangkan tapi sangat melelahkan bagiku karena ku tak bisa memejamkan mata. Tepat jam 5 pagi aku bergegas mandi sekalian sholat subuh.
Pagi itu aku sengaja ke bendungan karena pemandangannya yang masih hijau nan asri membuat semua mata terbuai ingin selalu berada disitu. Tak kusangka ternyata Sinta juga berada disitu, tak menunggu lama aku langsung menghampirinya.
“Lo kamu disini juga ternyata Sin?”
“Ya, Ini tempat favoritku yan”
“Hem sama donk, kenap kita selalu sama ya?
“Ya mungkin kita sehati Yan” lagi-lagi dia menggombal.
“Kok gak bilang kalau mau kesini Sin?”
“Ha.ha aku biasa sendiri Yan”
“Ya juga sie, tapi setidaknya aku bisa menemanimu” rayuku.
Aku ngerasa saat itu aku bukan Riyan yang biasanya, tumben aku bisa lancar dan lugas bicara sama cewek, akupun tak tau. Aku berfikir bahwa mungkin dia adalah bidadari yang sengaja di turunkan tuhan untukku. Pertemuan kedua sangatlah mengesankan karena aku banyak bicara sama dia, mulai seputar keluarga, hidup, dan hal yang bersifat privasi. ternyata dia mengidap kanker akut yang bisa saja suatu saat maut menjemputnya. Dia tak mau mengobati itu semua karena dokterpun tak mampu untuk mengobatinya akhirnya dia membiarkan penyakit itu berlalu begitu saja.
*********
Matahari mulai mengeluarkan cahaya khasnya yang kuning keemasan, saatnya pertemuan di akhiri. Kita bergegas pulang ke tempat masing-masing.
“Ayo pulang Sin, matahari mulai meninggi dan memanas nie”
“Ayo Yan”
“Gak mampir kerumahku Sin?”
“Gak usah Yan makasih kapan-kapan saja, toh kalau kita jodoh pasti kita akan selalu bersama” lagi-lagi dia menggombal.
“Kamu mesti begitu Sin he”
“Kan betul Yan”
“Ya,ya Sin see you later” Jawabku sok inggris.
Dalam perjalanan pulang aku selalu teringat raut wajahnya yag cantik, lagi-lagi hati ini bicara andai dia jadi pendamping hidupku?
Sesampainya di rumah aktivitasku tetap saja seperti biasanya mandi dan sholat. Setelah itu aku lagi-lagi memantapkan hatiku untuk Sinta, aku telfon dia dan aku ajak untuk ketemuan di bendungan tempat dimana kita biasa bertemu.
“Sin besok mau ketemu aku gak?”
“Emang ada apa Yan?”
“Aku ingin bicara sesuatu”
“Kayaknya serius amat Yan”
“He.he mungkin begitu Sin” jawabku dengan gaya slengeanku.
“Hem ya lihat besok ja Yan, kalau aku gak ada acara”
“Oke, mkasih Sin”
“Sam-sama Yan”
Telfon aku tutup, aku mulai memikirkan apa yang akan aku bicarakan besok, karena aku baru pertama kali menyatakan kata hati sama seorang wanita. ini menjadi hal yang menurutku konyol tapi mengsankan.
Aku lalui malam dengan gelisa dan resah, karena aku juga harus mencintai sinta yang kena penyakit kanker akut yang suatau saat bisa saja dia meninggalkan aku untuk selamanya, tapi aku begitu yakin akan dirinya.
Pagi mulai menyapaku dengan kabut-kabut putih yang tebal. Tapi aku tetap bergegas kekamar mandi karena aku harus ketemu Sinta, tak selang beberapa menit setelah selesai mandi hpku berbunyi, ternyata dari sinta. Aku angkat telfon darinya.
“Ya Sin ada apa?”
“Jadi ketemu Yan?”
“Ya dunk, aku sudah cakep nie” jawabku melucu.
“Oke kalau begitu Yan, tunggu di bendungan aja ya”
“Ya Sin”
Dengan sepeda tuaku, aku bergegas menuju bendungan sesampainya di bendungan aku duduk di tempat kita biasa duduk berdua.
Pertemua ketigaku ini memantapkanku untuk bisa memilikinya, dia bagiku wanita yang begitu hebat karena hingga samapi saat ini dia berusaha bertahan menghadapi penyakit kanker akut yang kata dokter hidupnya tak lama lagi.
Tak lama kemudian, tiba-tiba sinta ada di belakangku, sambil menepuk pundakku dia bertanya.
“Sudah lama Yan?”
“Lumayan la Sin, oya duduk dulu Sin”
‘Katanya mau membicarakan hal yang penting he.he” katanya meledek.
Sambil memandangi ke bendungan yang di penuhi air mengalir dan pemandangan yang indah dan asri, aku mulai kepembicaraan. Seolah alam ini mulai menyaksikan pertemuan kita.
“Sin boleh aku jujur tentang sesuatu?”
“Apa itu Yan?”
“Maukah kamu jadi kekasihku saat ini, esok dan seterusnya Sin?”
“Kenapa kau mau padaku Yan, kan kamu sudah tau kalau aku tak punya waktu lama”
“Aku tak peduli itu, aku hanya ingin bersamamu Sin” pintaku.
“Janganlah Yan aku kasian sama kamu, kalau aku sudah tiada nanti siapa yang akan menemanimu?”
“Bayangmu Sin, karena jika cintaku hilang aku tak harus hilang, begitulah aku untukmu cintaku akan hanya tetap untukmu”
“Kenapa kau begitu yakin denganku?”
“Karena hatiku dan diriku inginkan dirimu dan cintamu”
“Hem ya uda kalau kamu benar-benar yakin akan diriku, aku mau mendampingimu untuk hari ini esok dan seterusnya Yan. Tapi satu pintaku janga pernah sesali cintamu ini ya?”
“Ya sin, aku janji cinta ini tulus untukmu”
*********
Malampun tiba entah datang untuk mengusikku atau menemaniku, karena hari esok aku harus melepas masa lajangku akupun tak mengerti. Tapi yang pasti besok adalah hari bahagiaku yang akan menjadi memori tak terlupakan seumur hidupku. Saat aku terlelap dalam tidur ternyata aku larut dalam mimpi, sinta ternyata benar-benar meninggalkanku dalam mimpi. Seketika aku terbangun, ah ternyata itu hanya bunga tidur, ucapku dalak hati.
Esok benar-benar menyapaku, dimana aku harus siap melakukan konsekwensi apapun,termarmasuk yang terjadi dalam mimpiku semalam.
Tepat apada arah jarum jam 8.00 saatnya aku mengucapkan janji sehidup semati di tengah keramaian orang. Dengan gaun putih sinta menjadi perempuan yang perfek dimataku, aku sambut dia dengan senyuman di hari itu.
“Apakah kau siap mengucapkan janji itu Yan di depan semua orang?” Bisiknya.
“Aku sangat siap Sin”
“Benarkah begitu Yan? pikirkan dulu Yan sebelum ini benar-benar terjadi”
“Ya Sin aku siap dan yakin dengan semua ini”
“Kalau begitu ayo ucapkan janji itu didepan penghulu dan semua orang Yan”
Tapi tak lama sebelum janji itu selesai aku ucapkan tiba-tiba sinta menundukkan kepala di panggkuankuan dengan mata tetutup, bergegas aku membawanya kerumah sakit ternyata dia sudah tiada kata dokter. Seketika itu aku lemas dan menangisi kepergiannya hingga aku tak sadarkan diri
Aku mengiringi kepergiannya mulai dari pemandian hingga ke liang lahat dimana dia di semayamkan. Tapi air mata ini tak mau berhenti untuk menetes membasahi bumi, aku tak percaya atas semua ini karena dia begitu cepat pergi dari sisiku.
Kebahagiaan yang aku dambakan ternyata berubah menjadi derita, sambil menabur bunga diatas batu nisannya aku berjanji kalau aku tak akan mencintai orang lain hinnga ajal menjemputku.
Jika cinta benar-benar tak harus memiliki kenapa aku harus kehilangan dia untuk selamanya? Aku berharap selalu bersamamu meski hanya bayangmu yang menemaniku. Karena kau cinta pertamaku yang beakhir di ujung maut.
Bendungan itu begitu indah aliran air yang berirama begitu nyaman untuk di dengar dan di lihat, di tempat itu aku menuliskan banyak sejarah tentang kisah kita. Aku ukir nama kita tepat di bawah nama bendungan itu. semoga kau melihatnya di alam sana dan aku akan selalu menjaga cinta ini hingga akupun tiada.

