Suatu hari di negeri antah berantah sedang terjadi pergolakan politik. Presiden terpilih sedang bingung untuk memilih orang-orang yang kompeten di bidangnya masing-masing untuk mengisi pos-pos jabatan Menteri. Sang Presiden sangat kebingungan, karena dia merasa ditekan sana-sini. Baik tuntutan partai-partai koalisi, maupun tuntutan media massa yang menyebutkan Presiden harus tegas memilih Menteri dari kalangan profesional.
Setiap harinya, rakyat negeri antah berantah merasakan aura ketegangan akibat terlalu banyak melihat tayangan “audisi” menteri di televisi yang di setting seakan-akan mirip dengan pemilihan Idola Cilik. Mereka bertanya-tanya, siapa yang menjadi menteri?
Di kalangan pegawai-pegawai departemen terus berdoa agar supaya menteri yang memiliki program peningkatan tunjangan terpilih.
Di kalangan pelaksana pendidikan mendoakan supaya menteri yang terpilih adalah menteri yang benar-benar berani melangsungkan progam pendidikan gratis.
Di kalangan keluarga kandidat-kandidat menteri mendoakan agar anggota keluarganya terpilih. Supaya “kasta” mereka di tengah-tengah masyarakat semakin tinggi.
Sedangkan di area utama (ring 1) mendoakan supaya calon yang mereka pilih bisa “disetir” sesuai kemauan Sang Presiden Antah Berantah.
Singkat cerita, tiba saatnyalah Sang Presiden dari Negeri Antah Berantah mengumumkan susunan kabinet pilihannya. Gerombolan kuli tinta sudah siap mengabarkan momen penting itu ke seantero jagad raya.
Sang Presiden pun memberikan sambutan, kemudian dilanjutkan dengan membacakan susunan kabinet yang sudah tersusun rapi sesuai dengan “audisi” Mendola, Mentri Idola.
Nama-nama sudah diumumkan, Presiden mengucapkan syukur, dan akhirnya acara krusial tersebut bubar.
Euphoria di setiap sudut semakin terasa. Mereka yang terpilih langsung mengadakan selamatan di rumahnya masing-masing. Bahkan ada salah satu menteri yang ketika sampai di rumahnya, ia langsung turun dari mobil dan berlari ke dalam rumah sambil berteriak, dan para tetangga pun berhamburan keluar, sambil setengah berteriak mereka bilang, “Selamat ya Pak, waaah, kita punya tetangga menteri sekarang!”.
Semua tetangga yang tadinya “tidak akrab” menjadi “sangat akrab” atau bahasa kerennya SKSD (Sok Kenal Sok Dekat) dengan sang menteri terpilih.
Malam itu terasa sangat indah untuk mereka yang terpilih, dan terasa seperti neraka untuk mereka yang tidak terpilih.
Esoknya, semua menteri terpilih langsung diserbu para wartawan. Mereka “sangat-sangat” bersedia untuk diwawancarai sebagai Menteri terpilih yang akan menjalankan tugasnya sesegera mungkin. Salah satunya adalah Mentri Komunikasi dan Informatika terpilih.
Berikut petikan wawancara wartawan dengan Sang Menkominfo Negeri Antah Berantah:
Wartawan (W): “Selamat ya Pak, sudah terpilih menjadi menteri. Bagaimana perasaannya Pak?”
Menkominfo (M): “Iya, terimakasih ya. Ooh tentu saya sangat senang sekali. Mudah-mudahan amanah jabatan ini akan saya laksanakan dengan sebaik-baiknya.”
W: “Sekarang kan bapak terpilih sebagai Menkominfo Pak. Nah perkembangan teknologi di Negeri Antah Berantah saat ini sudah sangat pesat nih Pak. Salah satunya mungkin saya bisa bilang, Facebook. Apakah bapak punya akun di Facebook?”
M: “Ha..ha..ha..ha (tertawa ala raja di film-film india). Ya tentu donk saya punya, saya merasa sangat terbantu dengan adanya Facebook.”, jawab sang menteri dengan PeDe-nya.
W: “Membantu dalam hal apa?” tanya wartawan sembari terheran.
Dan kemudian sang menteri pun menjawab dengan tegas dan suara yang lantang.
M: “Facebook itu kan jejaring sosial, saya terbantu karena saya bertemu dgn istri ke-3 saya di facebook!”
W: “&*^#&*())_@(@*&^!@”
Jakarta, 23 Oktober 2009
Salam,
Dicky Septriadi

