saat aku berumur 11 tahun
ibuku mengajarkan ku ttg ketegasan
ketegasan dalam kata dan ketegasan dalam bersikap
dia bilang ‘bertanggung jawablah atas hidupmu sendiri’
kupikir aku terlalu kecil utk pendokrinan itu
tapi ternyata tidak,
aku sehebat ibuku
aku mengerti betul betul kalimat itu
disaat teman temanku sering kena pukul karena tak mau belajar
aku dengan santainya melenggang di depan rumah mereka
tak belajar sama sekali
mereka iri setengah mati
ibuku menjadi idola kala itu
kata mereka
‘ibumu baik!, tak pernah kau disuruhnya mengerjakan PR’
aneh, kenapa aku berpikir kebalikannya
aku merasa ibuku mendamparkanku setengah sadar di dunia ini
meraba sendirian dan sesekali memberi ‘makan’
jika aku masih bisa menahan ‘lapar dan dahaga’ tak perlulah baginya memberi yang berlebih
saat aku mendapat juara kelas
berkali kali malah
sedikitpun dia tidak pernah memuji
hanya tersenyum, manis sekali
tanpa kata,
hanya diam melihat nilaiku yang berada di atas rata rata
saat aku lulus sekolah
dan harus pergi meninggalkannya keluar kota
dia bersedih tapi hanya setitik dua titik air mata saja
sedangkan aku, menangis menanggung kerinduan terhadapnya berbulan bulan di kota hujan
payah sekali memang,
aku tak setegar ibuku dalam hal ini
saat aku mulai memasuki fase kehidupan dari dunia ku sendiri
dia mulai berkeluh kesah
menanyakan kenapa aku jarang pulang ke rumah
dan mulai macam macam merayuku
mencoba menahanku di kotanya
kukatakan padanya,
aku ingin menikmati dunia seperti kau dulu menikmatinya
aku ingin setegar dirimu yang bisa hidup sendiri
dan mereguk semua sari pati kemandirian, kesabaran, kebijakan, ketakgoyahan,
kekuatan memegang prinsip, ketegaran, ketegasan, ketepatan perencanaan keuangan, keberanian, keikhlasan, dan satu lagi aku ingin seperti dirimu yang betul betul menjadi penguasa atas kehidupanku sendiri dan bertanggung jawab atas semua pilihan itu
lagi lagi ibuku tersenyum
diam saja tak keruan
tak ada perdebatan
tak ada suara kendali yang memaksa
hanya satu saja dia ucapkan
‘lakukan semaumu’
sial, kenapa kata katanya malah menghujam
sendi sendi mata batinku
kata katanya malah membuatku ingin menyerah
mengibarkan bendera putih dan berhenti mengurus makan sendiri
tak mau, tak bolehlah begitu,
aku bekerja seharian
dari pagi hingga tengah hari
dan petangnya aku sibuk berlatih biola
tak ingat dia sama sekali
hanya sesekali saja ketika
kesedihan melanda
ketika aku butuh uang tambahan
ketika aku menitip makanan penganan yang khas
atau ketika aku
mengirim sebuah buku untuk ayahku
memberinya kabar hanya selintas
sekarang ibuku telah menua
rematik terkadang membuatnya menangis seharian
tapi dia tidak pernah mengeluhkan itu padaku
dia hanya menangis dalam diam
sesekali menahan nafas dan mengeryitkan keningnya
ah, ibuku memang tak banyak bicara
dia juga tak suka lawak yang berlebihan
selera musiknya juga bagus
hari ini, pagi pagi sekali aku sudah bercakap cakap dengannya
seperi biasa dia sedang membaca koran
ibuku memang suka membaca
aku tak banyak berbasa basi,
menyuruhnya mendengarkan baik baik lagu yang kuputarkan
‘Dunia Belum Kiamat’ dari Titiek Sandora dan Muchsin Alatas
kuletakkan saja gagang telepon di pengeras suara
kudiamkan tak ku ganggu ganggu
kubiarkan dia menikmati lagu kesukaannya
Sebelum menutup telepon,
katanya
‘terimakasih, kau manis sekali’
aku tak menjawab
hanya tersenyum, mengikuti caranya
selimut kembali menutupi tubuhku
tapi rasanya beda dari semalam
kali ini selimutku lebih hangat
dan aku benar benar menikmati dekapannya

