simpang siur ocehan sang saudagar pribumi
katanya : ke kiri tak makan ke kanan makan hati
beda pula ocehan sang pelancong jalanan
katanya : ke kiri bagus ke kanan bagus
bersorak sorak banyak tawaran
apa pedulinya saudagar makan atau tidak?
kodrat pelancong itu,
melirik, mengendus ngendus barang mewah nan ‘merakyat’
logika materialistis duduk pintar pintar di bahu kanan
semuanya sama kupikir,
suka barang mewah nan ‘merakyat’
istilah pasarannya ‘murah meriah’ kata mereka
tunggu apalagi, segeralah ‘pasar baru’ dibuka!!
keuntungan besar bagi kami ini janganlah ditunda lama lama?
punya uang, pilih mutu, ambil barang, bayar lunas
selesai !
hey,
cobalah kita lirik sebentar sang saudagar pribumi
sebentar saja,
tak kan hilang nafsu makan karenanya
anggaplah kita membuang waktu untuk bercuci tangan
meliriknya pun sedikit sedikit saja,
di sana duduk sang saudagar pribumi
yang dulunya kaya
yang dulunya penguasa atas ‘pasar lama’
yang dulunya tersenyum lebar
yang dulunya berteriak lantang menawarkan obralan dasar
sekarang cobalah kau perhatikan
sedih betul kelihatannya, bertekuk tekuk berkaca pada almanak
apa pula yang dia risaukan?
tahun baru pasti kan datang
tanggal 1 itu akan datang
bagai kiamat saja dia meresponnya, menggigil cemas dalam selimut hitam
tak bisakah kau juga bersenang atas kegembiraan kami,
para pelancong yang aduhai banyak duitnya ini?
para pelancong jalanan yang akan memetik untung besar?
ah, terserah kau sajalah
kita dari dulu memang sudah sama sama tak peduli
setan terlalu bersemangat menghasut kita untuk memusuhi satu sama lain
sekarang saatnya pelancong berjalan pulang
menikmati hasil buruannya, pamer sana pamer sini
derita sang saudagar telah menguap entah kemana
mungkin ke langit ke tujuh, jika memang ada
di sudut yang lalu,
sang saudagar masih saja berkaca pada almanak
memikirkan nasib bini dan anaknya yang sekarang mulai menahan lapar
jangan jangan bulan depan mereka benar benar akan terkapar di jalanan
memungut kerak kerak nasi bekas pelancong jalanan yang masih berludah
negeri ku ini penuh dengan saudagar dan pelancong
pelancong rakyat, saudagar juga rakyat
petinggi petinggi bumi pertiwi bingung juga memilih satu diantara dua
ehm,
kenapa tak kau akurkan saja mereka dulu
kemudian barulah kau urus perjanjian itu
katakanlah pada sang pelancong jalanan bahwa,
sang saudagar pribumi juga punya mutu bagus
kredit usaha lancar
peminjaman modal cepat dan
kios kios apik miliknya harum, wangi bunga tulip merah jambu
ayolah petinggi bumi pertiwi,
ulur saja tanggalnya
sampai sang saudagar kuat melenggang di pasar ramai,
entah kapan?
atau,
kasihlah dulu bilik bilik di ‘pasar baru’ untuknya
anak emaskan saja dia diatas semua pedagang datangan
berbaik hati sedikiiiit saja pada sang saudagar
kami ini, para pelancong juga tak sampai hati mengecilkannya
bukankah saudagar pribumi juga rakyatmu tuan?
Perjanjian Perdagangan Bebas (FTA) ASEAN-China.
Senin, 28 Desember 2009 | 06:49 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com - Perjanjian Perdagangan Bebas ASEAN-China cepat atau lambat akan menghancurkan sendi-sendi industri di dalam negeri. Perjanjian ASEAN-China itu akan mulai diberlakukan pada tanggal 1 Januari 2010.
“Dengan masuknya barang-barang murah dari China, rakyat senang harganya murah, tapi bagaimana dengan pengusahanya? Sebenarnya dengan begini negara di posisi dilematis,” kata Hendrawan dalam diskusi mingguan bertajuk “Ketika Produk China Menyerbu” di Warung Daun, Jalan Cikini, Sabtu (19/12/2009).

