Pada suatu hari, ketika sedang berjalan kaki disiang terik. Berjumpa saya dengan seseorang. Seseorang dengan tersenyum ramah begitu tulus. Dalam segala gerak tubuhnya mengisyaratkan hidup itu ringan begitu juga senyumnya,tidak lebih dan tidak kurang.
Hari itu senyumnya terekam.
Hari kedua, di jalan yang sama dengan senyum yang sama. Kami saling tersenyum. Tidak lebih dari reuni sebuah senyum.
Kenangan pulang dalam ingatan.
Kemudian semesta pun mulai bercanda. Kami bertemu lagi, lagi dan lagi. Dalam hati bertanya, inikah yang semesta inginkan? Sebuah pertemuan dengan reuni senyum tanpa kata.
Ketiga, keempat, kelima lalu imajinasi mulai mendera Ada apa dengan pertemuan penuh bintang-bintang hening itu?
Hujan turun, gelisah menyertai setiap refleksi.
Suatu hari, disaat hari biasa tanpa cerita dan rencana. Dibawah pohon rindang, ketika sedang menanti, dia menyapa.Sebuah kata pembuka….”hai” klise namun dinanti.
Kami pun berbincang tentang hidup sebelum siang terik lalu. Bukan kisah pribadi yang mengharu biru hanya cerita tentang apa yang kami tahu dan mereka tahu.
Mendengarkan.
Katanya, hidup ini begitu indah dan sulit. Sulitnya hidup membuat indahnya kian terasa. Kami berbicara tentang imajinasi dalam imajinasi. Mimpi memang, tapi kami menikmati tempo demi tempo. Senja hadir….kami terpisah.
Sebuah hari lainnya, pesan diterima.
“Apa yang terjadi dengan semesta kalo saya tidak bertemu kamu?”
Terdiam sejenak…lalu pesan berbalas dan melayang diudara untuknya.
“Semesta akan mendengar keluhan disiang hari terik, bukankah itu membosankan!”
Dan kami terus bertemu dibawah pohon rindang hanya untuk tersenyum dan berbicara tentang hal-hal biasa. Ya, hal-hal biasa!