Kau lemparkan senyum yang tak pernah kulihat senyatanya
Tertawa renyah dalam bayang perandaian
Hingga aku meyakini
Kaulah tulang iga yang diambil Tuhan dari rangka tubuhku
Untukku kau diciptakan
Sebagai makmum yang akan mengikuti kemanapun langkah kakiku
Hingga jiwa ini tercerabut dari rumah kediamannya
Diamlah
Dengarkan degup jantungku saat angin membawa suaramu
Melewati rongga demi rongga dan menggeliatkannya untuk lebih cepat berdetak
Hingga darahku bergolak
Bergerak lebih cepat dari biasanya
Berlari melebih waktu yang tersedia
Berkelana melewati batas dimensi yang tak pernah tersentuh lagi oleh akal sehat
Suatu saat aku berpikir
Tak akan menyentuhmu untuk kedua kalinya jika semuanya terjadi
Menikmatimu dalam kesucian yang utuh tanpa sebuah belaian
Hanya memandangmu sebagai putri kecantikan abadi
Meski semuanya kurindukan
Namun rasa ini kembali goyah
Adakah aku telah memberhalakanmu ?
Mengagungkanmu tak selayaknya kita sebagai makhluk yang sama
Mengangkatmu ke atas langit rumah dan menundukkan keningku lebih dalam dibanding sujud yang telah mengajariku bahwa hanya Tuhan yang layak menerima persembahan
Rasa sadar menampar keimananku
Mengajakku kembali menyapamu sebagai makhluk
Meski dirimu serasa luar biasa sebagai seorang wanita
Namun dirimu tetaplah manusia
Yang pernah kubelai dengan jiwa