Laksmi, sudah tujuh purnama tidak beringsut dari kamarnya. Ia menunggu suami tercintanya pulang. Membawakan jutaan kabar menyenangkan serta pelukan hangat di pinggang. Sebuah ciuman mesra berapi-api di kening. Setumpuk kata-kata cinta yang diselipkan di gendang telinga. Ia rindu ketika terjaga tengah malam, memeluk tangannya yang melintang di dadanya.
Kekangenan dibiarkan menumpuk di atas ranjang agar suaminya mengetahui. Meski pun harapan itu semakin tipis dan hampir mengaburkan keyakinannya. Tapi ia tetap percaya walau hanya menyisakannya sepotong butir padi, dia akan pulang . Justru ia menepiskan bayangan buruk, seperti terjangkit wabah penyakit. Atau terkena ujung mata tumbak musuh.
Ia masih percaya, suaminya memiliki mental petarung tangguh. Juga dibekali keahlian untuk melumpuhkan musuh. Permainan golok yang pernah disaksikannya, sangat lihai. Begitu pun dalam memanah dan ilmu kanuragannya sudah mumpuni. Insting membaca lawan sudah ditunjukannya ketika menghancurkan bajak laut di selat Sunda, bersama Prabu Maharaja.
Sebagai prajurit Galuh yang gagah berani. Kepergiannya ke Majapahit, apalagi mengantar putri Diah Pitaloka Citraresmi menikah. Bukan berperang. Tidak ada alasan untuk tidak pulang. Tidak pula mengabdi ke Majapahit. Hal itu tidak mungkin. Apalagi kepincut perawan Blambangan. Laksmi, masih percaya ketulusan cintanya. Termasuk kesetiaan pada dirinya.
“Kakang, mungkin kau tengah menimang laut. Mencari jalan pulang,” desah Laksmi, lirih.
Di benak Laksmi, kapal yang membawa Prabu Maharaja dan prajuritnya tengah mengarungi samudra maha luas. Mencari setiap ombak yang menjulang tinggi dengan tanah di punggungnya. Daratan Sunda yang berdiri anggun, di sekitarnya dipagari gunung-gunung. Setiap ombak datang, harapanpun muncul dan mereka mengenang anak, istri serta kekasihnya.
Ikan pun bermain-main di ujung kail. Disambut gelak tawa, mereka pun berebutan mencacah dagingnya. Memburu jenuh, melepaskannya dalam angin menderu dan merentang layar. Seharian mencari karang tenggelam dan menghitung matahari setiap kali melintas. Teriakan kalap melawan guntur saat ombak marah muntahkan seluruh isi perutnya.
Mereka mampu, bertahan meski gigil menyergap. Atawa terik menyengat hancurkan kulit sampai hangus. Laut bukan lagi musuh menakutkan. Laut tempat bermain mencari udang saat matahari tanggalkan siang.
“Ingat kah kakang, ketika tubuh kita tenggelam dalam pasir mencari senja?” ucap Laksmi. Sambungnya, “Lalu kita berkejaran menangkap buih. Melemparnya kembali ke laut dan kita terjebak batu karang. Mencari kerang, katamu di dalamnya menyimpan mutiara. Kau dapatkan itu. Kau kalungkan mutiara di atas lelehan air mata. Kita pun tak sanggup mencari pagi.”
Suara isak tertahan, semaputkan sepi yang bertumpuk di kamar. Lagu sedih yang menyerupai tiupan seruling gembala mencari tanahnya sendiri. Mencari keteduhan di ketiaktuannya. Iramanya menyentuh kaki-kaki langit dan menembus kedalaman bumi. Namun tak juga mampu menggerakan para dewa dari tidur lelapnya. Ia pun tercabik-cabik suara sendiri.
“Aku akan bertahan, sayang,” ucapnya disela-sela tangis. “Bertahan dari puting beliung yang menyergap setiap aku berdiri. Setiap harapan ini memudar.”
Kata-kata itu berhenti ditenggorokannya. Tangis yang ditahan akhirnya pecah juga. Mengalirkan seluruh perasaan melalui sungai dimatanya. Mencari muara tempat liturgi yang paling damai.***