aku menemukan kamu di balik secangkir teh kayu manis, sore ini.
aku menghitung hari. dua, tujuh, enambelas hari sejak kepergianmu dengan secarik senyum menghias di bibir. secarik ? ah ya, kamu selalu tersenyum ketika aku menyebut senyummu dengan secarik. karena bibir kamu yang tipis dan ranum merah jambu.
aku menemukan senyummu di dalam kepulan hangat aroma kayu manis yang menggelitik hidungku. senyummu hangat dan menggoda untuk dihisap. aku terpikat dan luruh dalam senyum yang membuat debar jantungku menari dalam nada yang menghentak tak berirama.
kusesap batang kayu manis. terasa pahit dan getir. seperti itu lah dirimu. hangat. mencintaimu itu pahit dan getir. kamu seperti ranah yang tak terjamah. tak peka mengenali peta hatimu yang tak berjejak. kamu tinggal begitu lama dalam hatiku tapi aku tak mengenalimu sedalam itu. lelikuan sikap dan maumu meninggalkan ranah gersang sejak kepergianmu, dengan secarik senyummu itu.
ah. nikmatnya menikmati secangkir teh kayu manis di sore hari. menikmati hangat, manis, pahit dan getirnya. seperti menikmati kamu, yang sudah enam belas hari ini tak pulang ke rumah hatiku.
***
sore hari, menikmati senja luruh sambil menghitung hari, yaaa genap enambelas hari, dan kamu belum pulang. secangkir teh kayu manis yang biasanya menemani kini tak mampu menggantikan. huh.