Di luar rumah masih dingin terasa. Sang bersiap sedang diri, kehangatan belum juga memeluk sang bumi. Sinar terang pun belum sempurna.
Di dalam rumah lelaki itu berdiri terpaku. Dipandanginya tubuh istrinya di ranjang sederhana itu, berselimut kain sarung usang memeluk si kecil yang terlelap. Lelaki itu mendesah pelan, matanya nanar menahan gejolak airmata yang mendesak,dadanya sesak menahan detak.
“Istriku ……, anakku …. , ma’afkan aku, aku harus pergi”. Segera ia beranjak dari situ. Pintu dibukanya dengan hati-hati agar tidak berderit. Sesampainya di luar rumah, sejenak ia menoleh ke belakang. Bayangan wajah istri dan anak sepeninggalnya nanti menghambat gerak langkahnya. Tapi hal itu tak mengurungkan tekadnya. Bayangan yang lain datang menggantikan, bayangan tentang dirinya yang pulang kembali ke rumah dengan penuh keceriaan. Maka segera saja ia melanjutkan langkah, menuju ke suatu tempat yang kata orang menjanjikan. Suatu tempat yang disebut tanah harapan.
(2)
Rumah, setelah fajar.
Hari sudah mulai terang walau dingin masih terasa. Wanita paruh baya itu bangun dari tidurnya. Ia menggeliat, lalu menoleh kanan kiri. Si kecil masih lelap. Tak dilihatnya ada tanda-tanda sang suami. “Rupanya ia benar-benar berangkat”, katanya lirih.
Percakapan malam tadi melintas di pikirannya. Ia masih ingat betul bagaimana suaminya bertekad akan merubah nasib keluarganya.
“Bang, sebenarnya aku lebih suka kamu ada di sini meski keadaannya begini”.
“Aku ini malu, dik. Malu sama saudara-saudaramu, malu sama tetangga. Bertahun-tahun kita telah berkeluarga, bahkan sampai punya anak, tapi belum juga aku membahagiakanmu. Keadaan kita masih begini-begini aja”.
“Jangan dikira aku ini tidak bahagia bang, sampai saat ini kita masih bisa makan, rumah sudah ada walau sederhana, kita juga masih bisa berpakaian layak. Itu sudah cukup bagiku. Aku tidak akan menuntut apa-apa lagi di luar kemampuanmu bang”.
“Dik, aku ini kepala keluarga. Aku tak ingin gagal. Mengertilah dik, biarkan aku mencoba menjadi kepala keluarga yang tidak gagal. Kata orang-orang banyak, di barat sana ada suatu tempat yg sangat makmur. Katanya di sana banyak peluang untuk mencari nafkah. Apa salahnya saya mencoba?”
“Abang yakin itu betul? bukan hanya kabar burung semata? Pikir dulu matang-matang! Abang kan belum tahu apa-apa tentang tempat itu?”
“Aku tak akan pernah tahu kalau belum sampai kesana”. “Aku sangat yakin dan sangat ingin segera berangkat ke sana”.
“Lantas bagaiman dengan aku dan anakmu nanti selama kau tinggal? Apa kau tega meninggalkan kami?
“Aku percaya kamu wanita yang kuat, ulet, dan sabar. Aku telah mengetahui hal ini sejak kita belum menikah dulu, dan itu telah terbukti sejak kita menikah hingga sekarang”. “Oleh karena itu aku berani meninggalkan kamu dan anak kita. Aku percaya padamu, kamu tidaklah lemah”.
“Kalau memang begitu aku tidak bisa menahan abang. Kapan abang akan berangkat?
“Besok pagi, sebelum fajar aku harus sudah berangkat”. ‘Kamu tak usah repot menyiapkan bekal, aku akan membawa kebutuhan seadanya saja”. “Besok sebelum fajar, tanpa menunggumu bangun aku akan berangkat”. “Aku akan titipkan dan pasrahkan kamu dan anakku kepada yang Maha Kuasa”.
“Baiklah, aku hanya bisa berdo’a, semoga tercapai yang abang inginkan”.
Sekarang suaminya telah pergi. Ditatapnya si kecil di atas pembaringan. Sang pelindung dan pengayom di rumah itu tak ada untuk sementara. Ia tak tahu kapan “sementara” itu berbatas. Yang ia tahu hidup harus terus berlanjut. Ia mantapkan semangat dan tekad untuk berjuang, tanpa sang pemimpin.