Seorang sahabat dari dunia maya yang tinggal jauh di sisi lain bumi menceritakan soal pernikahannya selama 30 tahun dengan istrinya. Ia, sebut saja namanya Roy, baru saja merayakan ulang tahun yang ke 52 tahun bulan lalu. Roy sudah memiliki seorang putri dan seorang cucu. Dia itu sahabat saya yang paling baik dan yang paling banyak mengajarkan saya cara bersukur dan mencintai keluarga. Tapi sayangnya, apa yang ia ajarkan tidak diterapkan pada perkawinannya sendiri.
Awalnya ia bercerita bahwa ia tidak lagi mencintai istrinya sejak 10 tahun yang lalu. Ada masalah prinsipil yang membuat Roy marah. Lalu rasa cinta itu menguap hilang begitu saja. Keinginan cerai sudah tercetus dari hari pertama perkelahian mereka tapi hukum bicara lain. Negara tidak mengizinkan mereka untuk bercerai. Mereka pun akhirnya memutuskan untuk tetap tinggal serumah, tanpa cinta.
Jadi, secara hukum, mereka masih berstatus suami istri. Secara sosial, mereka masih pasangan suami istri paling serasi (mereka tetap merahasiakan masalah ini). Secara hati, mereka bukan lagi sepasang merpati yang sedang jatuh cinta. Secara suami istri, mereka tidak lagi tidur dalam satu tempat tidur, satu kamar dan satu hubungan intim.
Saya certakan dulu soal hukum perkawinan di negara tempat Roy tinggal. Disana hubungan suami istri sangat dihormati hukum. Maksudnya, semua urusan yang berhubungan dengan uang dan barang mewah harus ada kata sepakat resmi dari keduanya. Misalnya, jika si istri mau beli perhiasan maka harus ada surat resmi dari suami bahwa dia boleh beli perhiasan. Terus, kalau si suami mau beli mobil juga harus ada surat izin dari istri. Jadi semua barang-barang di rumah menggunakan nama suami dan istri, tidak boleh salah satunya.
Roy bilang, dengan peraturan yang lumayan merepotkan begini, tingkat perceraian jadi semakin kurang. Soalnya, mereka pun dilarang untuk menikah lagi alias dilarang poligami. Jika mereka ‘kekeuh’ mau cerai, mereka bisa melakukannya di Negara lain yang mau memberi izin mereka bercerai. Agak membingungkan dan merepotkan memang tapi begitulah hukum di negaranya.
Eineewaay, 10 tahun bukanlah waktu yang singkat untuk membenci sang istri. Roy cerita perkawinannya penuh dengan cacian dan makian. Ia benci sekali istrinya, ia benci apapun yang istrinya katakan dan lakukan. Entah sudah berapa kali Roy mengusirnya dari rumah walaupun akhirnya kembali lagi.
“Saya butuh dia untuk mengurusi urusan rumah tangga seperti masak, mencuci dan membersihkan rumah! Sebenarnya saya hanya butuh seorang maid tapi daripada bayar orang lain, lebih baik saya bayar dia.” “That’s rude!” kata saya kesal.
Tapi perlu dicatat nih, sebenci-bencinya Roy pada istrinya, dia masih memberi semua gaji Roy buat keperluan rumah tangga. Ia juga masih memberi uang untuk liburan ke luar negeri dan rutin membelikan kado buat sang istri.
Seperti penonton sinetron, saya mengikuti perkembangan cerita Roy dan penasaran bagaimana akhir cerita mereka. Sampai pada suatu hari, Roy cerita bahwa istrinya tiba-tiba bilang ‘I Love You’ lagi untuk pertama kalinya dalam 10 tahun. Saat itu mereka sedang makan malam di ruang makan. Biasanya mereka makan dalam diam.
Dan gunung es pun meleleh dengan cepat. Roy tiba-tiba luluh dengan ucapan itu. Entah angin apa yang membuat istrinya tiba-tiba mengatakan itu pada Roy. Pastinya, kekuatan kata itu membuat Roy merasa jatuh cinta lagi pada Dee. Ah, so sweet!
Sikap Roy seperti anak SMA yang baru jatuh cinta lagi. Lucu rasanya mengingat usianya yang sudah setengah abad.
“Lalu, kamu jawab apa?” tanya saya
“Nothing.”
“Speechless?”
“Iya, kata-kata itu terdengar indah sekali. Saya sudah lama tidak mendengarnya dari dia”
“Mungkin sudah saatnya kamu mengatakan ‘I love you’ padanya. Bring the flame back in track!”
“I will.”
Ternyata permusuhan mereka selama bertahun-tahun itu cair hanya dengan kata-kata ‘I love you’. Coba dari dulu, mungkin mereka nggak akan menghabiskan waktu percuma dengan saling memaki. Sudah hampir dua bulan tidak ada kabar dari Roy. Itu berarti, dia sudah bahagia….

