Nina, kamu dan dia sangat mesra, berpelukan di atas rerumputan hijau itu indah. Nina, rambutmu pirang juga rambutnya, punyamu panjang sepunggung dan punyanya hanya sebahu. Nina, kamu anggun dengan rok rumbai juga sepatu ballet. Nina, jeans skinny dan sepatu kets yang dia kenakan itu sangat matching. Oh, Nina! Lihat! Kemejanya bermotif kotak, meski berbeda dengan cardiganmu yang bermotif garis tetapi warna keduanya sama, hitam dan putih. Nina, aku yang mencuri foto kalian di taman itu, pasti aku kembalikan segera.
Nina, maaf telah membuat semuanya tampak rumit. Ketika makan malam di Sabtu lalu, baru aku tahu ternyata ayahmu adalah sosok yang baik, penuh canda, dan manis. Hey, ingat! Kamu meninggalkan kami berdua semalaman, kamu pamit ke kamar tetapi tidak kembali lagi. Sampai pagi tiba kamu tidak tampak juga, akhirnya aku pamit pulang pada ayahmu setelah sebelumnya menggeledah tas kecil milikmu demi sebuah foto. Padahal ingin sekali bicara berdua denganmu, melumerkan yang beku di malam Minggu.
Nina, sekarang Senin, dan tak pernah aku berakting apalagi berganti peran sebagai badut. Semua yang kuberi dan kuucap bukan lelucon. Tapi pernah aku berperan sebagai pengintai, kuiikuti setiap langkahmu hingga di sudut gang selatan rumahmu, Selasa lalu. Kamu bertemu dia, si kemeja kotak dengan jeans skinny dan bersepatu kets. Kamu cium keningnya, dia balas mencium bibir, lalu kalian berpelukan mesra sekali. Aku masih setia mengikuti hingga kalian berjalan bergandengan tangan menuju utara, tidak jauh dari situ terlihat sebuah taman dengan rerumputan hijau yang lumayan luas. Kalian duduk pada bangku panjang, aku mengendap di balik kotak sampah.
Aku masih memperhatikan kalian serius dari balik kotak sampah. Kamu mengeluarkan sebuah kamera dan meletakkannya pada sebuah meja. Kalian berdua berdiri, kemudian berjalan beberapa langkah dari depan meja. Kalian berpose sambil berpeluk, tampak erat, dan blitz berkilat sejenak. Ya, berfoto narsis dengan self timer memang menyenangkan, aku pun sering melakukan. Lalu kalian berciuman, kali ini sangat bergairah, panas, hatiku panas. Aku beranjak dari kotak sampah, pergi ke stasiun lalu naik kereta menuju rumah, aku tak peduli dengan apa yang akan kalian lakukan kemudian, terserah.
Nina, lihatlah keluargamu, mereka sangat baik padaku, terutama ayahmu. Minggu malam dia mengundangku kembali untuk makan malam di rumahmu, tetapi untuk hari Kamis. Oktober dua satu adalah ulang tahun adikmu, dua ribu sepuluh ini umurnya pun sama dua satu, dan aku resmi akan datang ke pestanya atas undangan ayahmu. Malam Jum’at aku khususkan buat adikmu.
Nina, I can be your boyfriend so you can stay with your girlfriend. Your father is a sweet old man but it is hard for him to understand that you wanna love a woman. Nina, I can be your boyfriend if it puts an end to all this nonsens.
Nina, aku tak sabar menunggu Jum’at maupun Sabtu. Rasa ini bergejolak sejak lama, otakku sudah tak mampu menampungnya. Pasti terbaca konyol tapi tidak dengan motif yang main-main. Aku sangat serius. Sampai bertemu Kamis.
*Hasil ngacak-ngacak lagu Jens Lekman - A Postcard To Nina, hahaha