“You can’t get more money with your brain”“Ya, ungkapan ini sangat cocok dialamatkan buat gue. Gue yang berprofesi sebagai editor di sebuah perusahaan penerbitan. Gue yang masih ngga punya bayangan yang jelas bagaimana masa depan gue terutama istri dan anak-anak gue. Memang, gue masih ngga bisa ngebayangin bagaimana nanti anak-anak gue bisa mendapatkan pendidikan yang layak sementara biaya untuk pendidikan semakin mahal ngga masuk akal.”
Demikian isi sebuah sms dari salah satu teman Robi. Mereka baru saja bertemu kembali setelah sekian lama berpisah. Melalui sebuah situs pertemanan Robi dipertemukan kembali dengan teman-teman lamanya. Mereka pun kembali dapat berinteraksi meskipun terpisah oleh jarak yang agak jauh. Teman Robi itu berusaha mengungkapkan unek-uneknya tentang profesi yang dijalaninya.
Dalam kesempatan yang lain melalui e-mail teman Robi kembali mengungkapkan curhatnya.
Sebagai seorang editor, kita dituntut untuk memiliki kecerdasan dan kreativitas yang tinggi. Ini tentu saja bukan pekerjaan yang ringan dan mudah. Syarat untuk menjadi editor pun tidak main-main, dia harus sarjana lulusan perguruan tinggi negeri bahkan ada juga yang magister (S2), mempunyai indeks prestasi minimal 3,00, dan dapat berpikir cepat dalam tekanan. Ini tentu saja hanya dimiliki oleh bukan sembarang orang.
Dengan kriteria seperti itu, tentu orang akan mengira bahwa pendapatan seorang editor pastilah sangat lumayan. Wajar kan orang yang spesial digaji dengan spesial juga. Tapi, orang akan sangat terkejut saat mengetahui bahwa pendapatan seorang editor tidak se-spesial sebagaimana tugas dan fungsi editor itu. Bahkan bisa dibilang seorang editor yang bekerja dengan “otaknya” itu memiliki pendapatan yang sama atau bisa jadi lebih kecil dari pendapatan seorang pekerja yang menggunakan “ototnya” (maaf, bukan berarti saya merendahkan mereka yang bekerja dengan ototnya, tetapi ini hanya sebagai perbandingan saja). Ironis, ya.
Tengok saja, seorang editor yang harus menyelesaikan sebuah naskah untuk dijadikan buku. Naskah itu hanya terdiri dari 30 halaman. Tentu saja ini tidak layak untuk dijadikan sebuah buku (tapi anehnya diterima oleh sang penanggung jawab, chief editor). Kondisi ini memang sangat sering terjadi di dunia penerbitan. Dan, editorlah yang menjadi kreator sekaligus finishing toucher dari naskah yang ngga layak itu. Dia harus menjadikan buku itu menjadi layak. Ini dilakukan dengan menambah halaman buku menjadi 64 halaman (jumlah ini dianggap ekonomis dalam penerbitan) dengan menambah materi dan gambar. Kalo dipikir ini sih sama aja editor yang nulis buku itu, ya kan.
Sebenarnya sebutan editor itu tidak cocok buatnya karena pekerjaan yang harus dilakukan tidak cuma mengedit saja tetapi juga harus merombak, menambahkan, bahkan terkadang harus menulis ulang naskah tersebut agar menjadi buku yang layak dibaca dan laku dijual. Dan, ini ngga pernah dipedulikan oleh sang atasan, yang dia tahu buku itu harus selesai dengan baik dan laku dijual. Coba bayangkan, naskah dari penulis tadi (yang ngga layak) sudah disulap sedemikian rupa oleh editor dan laku terjual, tetapi apa yang didapatkan oleh editor? Uang lembur yang hanya cukup buat beli pulsa.
Sementara, penulis buku itu yang notabene cuma membuat setengah dari buku itu mendapatkan semuanya: nama sebagai penulis (ini sangat mahal nilainya karena bisa menjadi faktor promosi dalam pekerjaannya), uang lelah menulis (yang jumlahnya lumayan lah), royalti (pendapatan pasif yang didapat setiap tahun), dan popularitas (kalo bukunya laku tentu saja penulisnya juga terkenal dong).
Gimana? Layakkah jika seorang editor yang dituntut memiliki kecerdasan dan kreativitas tinggi ternyata mendapatkan pendapatan yang minim yang ngga sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya? Apakah layak seorang editor yang bekerja dalam tataran ide dan kreativitas digaji berdasarkan jam kerja? Di perusahaan penerbitan biasanya berlaku sistem lembur dimana perhitungan lembur itu berdasarkan waktu pekerja itu melakukan pekerjaannya. Lho, editor yang bekerja berdasarkan kreativitas dan daya pikirnya kok dibayar berdasarkan waktu kerja, ngga matching dong.
Tapi, dalam dunia bisnis yang segala sesuatunya diukur dengan pertimbangan untung dan rugi, hal ini sangat wajar. Boleh dibilang, editor adalah korban (tumbal) dari sistem yang kapitalistik. Dalam sistem kapitalistik ini siapa yang bisa menyumbang keuntungan lebih banyak buat perusahaan, dialah yang mendapatkan bagian paling besar. Sialnya, editor sebagai pemain di belakang layar emang paling ngga keliatan perannya dalam bisnis ini. Mereka hanya tau penulisnya lah yang hebat dan pintar, padahal??? Atau, kalau buku itu bisa laku terjual, mereka melihat ini adalah peran pihak marketing. Editor ngga pernah masuk hitungan. Kecuali, saat terjadi kesalahan, saat dimana semua orang serentak menunjuk jari telunjuknya kepada editor. Sungguh ironis.
Dengan perasaan penuh keprihatinan dan rasa simpati, Robi mencoba menerima segala keluh kesah dan curhat dari temannya itu. namun, Robi sadar tidak ada yang bisa dilakukannya. Hanya ucapan singkat yang bisa disampaikan kepada temannya itu, “sabar ya bro, tidak ada yang sia-sia dalam hidup ini. semua pasti ada balasannya.”
***
Hari itu Robi kembali mendapat sebuah e-mail dari teman baiknya ini. sebuah tulisan yang juga diposting di salah satu note di sebuah situs pertemanan.
Who wants to be an editor?
Saat membaca koran, mata saya tertumbuk pada satu iklan lowongan pekerjaan.
Dibutuhkan oleh suatu perusahaan penerbitan, seorang editor dengan kualifikasi sebagai berikut:
- S1/S2 dari perguruan tinggi negeri
- minimal memiliki IP 3,00
- sanggup bekerja dalam tekanan
- latar belakang pendidikan MIPA, agama, dan ilmu sosial
- memiliki minat dalam bidang pendidikan
Demikianlah kira-kira bunyi iklan lowongan pekerjaan tersebut. Demi melihat lowongan pekerjaan itu, gue yang saat itu memang sedang mencari kerja, langsung melotot dan tertarik dengan lowongan tersebut.
Kualifikasi tersebut memang cocok banget dengan minat dan pengalaman kerja yang gue miliki. Gue yang lulusan PTN dengan latar belakang MIPA memang agak sulit untuk mencari pekerjaan yang sesuai. Saat itu gue masih berstatus sebagai pengajar honorer di sebuah bimbingan belajar. Jadi, saat gue melihat lowongan pekerjaan ini, gue langsung berminat. Surat lamaran dan cv segera gue buat dan gue kirim melalui email.
Dari kualifikasi yang diminta dalam iklan lowongan pekerjaan tersebut, gue mengira posisi yang ditawarkan tentu menjanjikan karir dan pendapatan yang memadai bagi seorang sarjana seperti gue. Karir dan penghasilan yang cukup memang sangat gue butuhkan berhubung saat itu gue baru aja dikaruniai seorang anak dari pernikahan gue dengan seorang wanita minang. Gue sangat berharap bisa meningkatkan taraf hidup gue setelah gue bisa bekerja di perusahaan penerbitan ini.
Dari iklan lowongan tersebut, gue pikir orang yang akan bekerja sebagai editor tentulah orang yang pintar dan memiliki posisi penting dalam perusahaan itu. Wajar saja, kalau gue berharap mendapatkan karir sekaligus penghasilan yang bisa menjamin masa depan gue dan keluarga gue.
Tidak beberapa lama, panggilan untuk tes dan wawancara pun datang sebagai tanggapan atas lamaran yang gue kirimkan. Tentu saja gue sangat gembira menyambutnya. Dalam hati, udah terbayang gue akan mendapatkan pekerjaan yang gue idam-idamkan.
Dan, dengan semangat 45 gue mendatangi kantor perusahaan penerbitan itu. Gue harus menjalani serangkaian tes dan wawancara. Dari tes yang gue jalani, gue masih yakin bahwa pekerjaan editor yang gue lamar ini adalah pekerjaan idaman gue.
Namun, semua bayangan indah tentang pekerjaan sebagai seorang editor menjadi buyar saat tiba gilirannya gue wawancara dengan kepala HRD di perusahaan tersebut. Bayangan gue yang berharap mendapat gaji yang memadai buyar seketika saat sang kepala HRD itu menawarkan jumlah rupiah yang amat tidak memadai dan tidak sesuai dengan tuntutan kualifikasi dalam iklan lowongan pekerjaan di atas. Saat gue kurang tanggap dengan tawaran gaji yang ditawarkan, dengan entengnya sang kepala HRD berkata, “kalau ngga sesuai ya ngga apa-apa, banyak kok orang lain yang mau.” Ini tentu saja sangat dilematis buat gue yang emang butuh banget pekerjaan itu. Dengan berat hati gue terima pekerjaan itu sambil masih bergumam dalam hati seolah ngga percaya dan terbayang lagi beratnya menyongsong masa depan dengan pendapatan pas-pasan seperti ini.
Dan, saat gue sudah berada di dalam perusahaan penerbitan itu, gue ngga sendiri. Di sana gue bertemu dengan editor-editor dengan latar belakang pendidikan yang sangat baik tetapi harus menerima kenyataan bahwa mereka tidak mendapat penghasilan yang sesuai dengan yang seharusnya. Ngga ada dari mereka yang sungguh-sungguh berhasrat besar untuk menjadi editor melainkan hanya menjalani nasib saja. Editor yang dituntut untuk berpendidikan tinggi, pintar dan cerdas, memiliki prestasi bagus, ide yang cemerlang, dan kreativitas tinggi, serta mental yang kuat karena harus biasa bekerja under pressure, tetapi dihargai dengan sangat murah dan disamakan dengan pekerja yang bekerja dengan ototnya saja. Editor yang bekerja dengan otak dan hatinya tetapi harus berada di bawah kekuasaan orang-orang yang ngga punya otak dan hati. Sungguh ironis, bukan.
Begitulah kira-kira awalnya gue terjerumus ke dalam lembah hitam ini … eh salah, maksudnya awal gue akhirnya menjalani pekerjaan sebagai editor. Pekerjaan yang masih gue jalani sampai saat ini.
Buat gue ini adalah kenyataan hidup. Dalam hidup ini terkadang kita dihadapkan oleh hanya satu pilihan yang harus kita ambil. Memilih satu pilihan lebih baik daripada tidak punya pilihan sama sekali.
Lagian, siapa suruh jadi editor? Daripada istri dan anak-anak gue kelaparan, ya gue jalanin aja pekerjaan ini sambil bermimpi mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dan masa depan yang lebih baik.
Buat rekan-rekan sesama editor, this is tribute to you for your full of dedication and respect in your work.
Peace ya!
Dengan trenyuh dan prihatin, Robi termenung atas cerita temannya itu. Kembali Robi bersimpati kepada temannya itu seraya bergumam, “semoga antum mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, akhi.”

