Seekor elang menukik dari sarangnya di ketinggian Gunung Kerinci, seperti selendang hitam terhempas dari alam gaib. “Kuiiik…kuik,” sayapnya menimbulkan suara desau membelah udara. Makin lama makin jauh meniti embun, menuju hamparan hutan rimba Kerinci Seblat yang penuh teka-teki. Ini akan menjadi awal sebuah drama perburuan kejam yang langsung dikendalikan Sang Alam.
Kuikk…kuik
Masih terlalu pagi untuk bangun. Hawa dingin pegunungan betul-betul mengiris kuping, membuat persendian linu. Rambut menjadi basah dan hidung jadi beringus. Jika tidak karena pentingnya, kebanyakan orang mestinya memilih berkemul selimut tebal atau duduk mengepung tungku perapian.
Namun kebun teh Kayu Aro di lereng Gunung Kerinci telah terjaga. Ribuan manusia membanjiri perkebunan itu dengan umbul-umbul warna-warni, timbul tenggelam dalam pesta menyambut tamu. Orang-orang hilir mudik mengikuti arahan pemandu acara, tanpa menghiraukan tiupan angin yang membekukan tulang.
Rombongan pemetik teh pagi itu diwajibkan turun lebih awal, jika perlu, sebelum ayam berkokok.
Inilah salah satu kisah sedih wanita pemetik teh. Mereka digambarkan sebagai gadis pemalu dengan pipi merah rona, jemarinya sesegar pucuk teh. Menunduk bila disapa, berani menatap hanya lewat ekor mata. Bahkan terdapat pemeo: “Untuk wanita hangat teman bercinta, carilah di lantai dansa. Tapi untuk isteri-isteri pilihan, datanglah ke kebun teh Kayu Aro. Di sana terdapat puluhan, mungkin ratusan dewi kecantikan!”
Tapi semua itu hanyalah kalimat indah rekaan tukang cerita. Hidup terlalu keras untuk mengizinkan bunga melur mekar di kaki gunung. Tak pernah bergeser sejak zaman feodal, kebun teh Kayu Aro menerapkan prinsip-prinsip kolonial dalam menjalankan bisnisnya, semakin menguatkan kesan perkebunan itu memanglah onderneming peninggalan Belanda.
“Hendak ke mana, Pakcik?” Seorang wanita muda pemetik teh menyapa sambil lalu. Tangannya terus bekerja, tanpa melihat pun ia mampu memetik dedaunan secara tepat.
“Ke sana!”
“Nak ke mana, pagi-pagi nian…”
“He…he…he, aku yang perlu bertanya. Pagi ini kalian bekerja memakai baju baru. Mengapa?”
“Itu rahasia!”
Lelaki eksentrik berkaki tunggal itu tersenyum maklum. Sejak dahulu memang begitu, seri kelakuan yang diwariskan dari zaman ke zaman. Jika ada tamu, segalanya dipoles dan dibuat secantik mungkin.
Para pemetik teh itu dijadikan sesuatu yang perlu dipamerkan. Agar tidak mengotori pandangan tamu dengan baju yang lusuh dan muka yang pucat, mandor pengawas membagikan batik murahan dan mereka diwajibkan memakai pupur dan gincu, untuk hari ini!
Dikabarkan, seorang pejabat tinggi dari Jakarta akan berkunjung ke kaki Gunung Kerinci. Ini merupakan kunjungan kerja yang sudah lama direncanakan. “Semalam di Bumi Kincai” setidaknya terkenang sampai seribu tahun. Pejabat itu hendak meninjau proyek percontohan pemakaian pupuk penemuan baru untuk padi sawah. Untuk itu disiapkan penyambutan istimewa. Ia akan disambut di pesanggerahan, kompleks bangunan megah tepat di tengah perkebunan. Bagi tamu agung itu disiapkan sekapur sirih, rangkaian tari-tarian ucapan selamat datang. Juga spanduk-spanduk dibentangkan. Untuk membesarkan hatinya!
Pakcik Adenan, lelaki tua pemarah itu, tidak ikut menyemarakkan acara. Pamong setempat sengaja membiarkannya lolos dari daftar, daripada nanti mengganggu. Memang benar ia seorang pejuang kemerdekaan, tapi sifatnya yang meledak-ledak sangat mengkhawatirkan. Ia selalu saja tidak puas dengan apa yang dilakukan orang mengisi kemerdekaan ini, tak perduli dengan siapa ia bicara, kritiknya yang tajam sukar dikendalikan. Begini salah, begitu salah. Meski pendapatnya mengandung kebenaran, tetapi kehidupan ini kan tak bisa lepas dari sifat pura-pura? Karena itu sangat bijak kiranya membiarkannya pergi menjauh sekehendak hatinya.
Dari jauh terdengar lengking sirene, meliuk-liuk seperti rambut perempuan, pertanda tamu agung telah memasuki lokasi perkebunan. Langsung menuju pesanggerahan. Mobil putih di depan dengan lampu kelap-kelip di atasnya sebagai pembuka jalan. Pengguna jalan lainnya harus berhenti, setidaknya menyingkir, supaya rombongan tamu itu lancar tanpa hambatan.
Seperti biasa, mobil utama disamarkan untuk alasan keamanan dan alasan-alasan khusus lainnya. Kadangkala berada di tengah, kadang di ekor iring-iringan. Tapi tamu agung itu sendiri selalu berusaha menunjukkan di mana ia berada, seolah-olah tanpa sengaja membuka kaca mobilnya sedikit saja untuk memamerkan jabatan dan wewenangnya.
Adenan melirik sejenak ke arah iring-iringan itu, lalu berkata kepada rombongan pemetik teh:
“Sebelum berpindah tempat, pastikan kalian intip permukaan tanah lebih dulu. Banyak ular berbisa, kalian tak bisa mengelak kalau sudah terpijak perutnya!”
Dengan itu ia pergi, mendaki jalan setapak ke kaki gunung. Tertatih-tatih, dengan tongkat penyangga ketiak. Kaki kirinya yang buntung sampai lutut memantul-mantul setiap kali ia melangkah.
Ia menggerutu seorang diri: “Tamu lagi, tamu lagi…” Tak soal baginya siapapun tamu itu, apa pun jabatannya dan seberapa meriah ia disambut. Tapi setiap kali bangunan megah di tengah perkebunan itu digunakan, hatinya terluka.
Ia memiliki kenangan khusus yang tak terlupakan, yakni ketika kakinya jadi buntung kena tembak di sekitar bangunan itu.
“Pesanggerahan keparat!” ia mengumpat.
Bangunan itu telah dipugar. Pemda setempat menggunakannya sebagai tempat menyambut tamu. Memang ideal kiranya, gerbang masuk ke Kota Sungai Penuh, dengan jalan berliku dan embun yang jatuh sewaktu-waktu. Romantisme alam yang tak dapat dipungkiri.
Dahulu, bangunan itu merupakan tempat peristirahatan Gubernur Jenderal Belanda. Para ambtenar dan opsir rendahan mencuri waktu untuk mampir, sambil membawa pelacur dari kota. Mereka mengadakan pesta mabuk sampai pagi, menuang sedikit minuman ke kutang para wanita murahan itu sambil berteriak “Hoseee…! Lalu menghabiskan sisanya.
Ketika Jepang masuk, bangunan itu ganti pemilik. Belanda terbirit-birit menyelamatkan dagingnya yang berlipat-lipat dan keringatnya yang bau amis. Jepang menggunakan tempat itu sebagai markas kempetai, polisi militer yang bengis, yang selalu menaruh curiga dengan aktifitas pemuda.
Adenan muda yang berjuang di bawah Letnan Jumadi ketika itu dipanggil untuk suatu interogasi ke markas kempetai. Situasi tak menentu dan beragamnya isu beredar tentang “Jepang patah arang di Samudera Pasifik” membuat Adenan menantang badai menyambut kemerdekaan. Ia datang lebih awal dari jadwal pemanggilan, sekaligus membawa anak buahnya menggempur pesanggerahan itu untuk merampas bedil dan amunisi. Tapi sayang, sebutir peluru musuh membentur lutut kirinya. Meski penyerbuan itu berhasil gemilang, Adenan keburu pingsan. Ia tak tahu apa yang terjadi selanjutnya dan ketika siuman ia sudah berada di rumahnya dengan kaki tinggal separoh.
“Sebelah kakiku kupersembahkan untuk negeri ini. Semoga tercatat sebagai amal bakti di sisi Tuhan!”
Dalam pikiran Adenan, apa yang dilakukan Bangsa Indonesia saat ini tak jauh berbeda dari dulu. Berkhidmat untuk negara hanya sebatas retorika belaka. Tak mengenal efisiensi. Boros, sia-sia, waktu dan tenaga habis digunakan untuk hal-hal sepele yang tak ada sangkut-pautnya dengan apa yang disebut mengisi kemerdekaan.
Seperti dahulu, kebanyakan orang tak mengerti gelora api perjuangan. Sebagian bergerilya di tengah hutan, sebagian lagi malah berkawan dengan penjajah. Ikut menembaki pejuang kemerdekaan dengan senjata yang dipinjamkan Belanda. Orang yang mengirim peluru membuntungi kakinya juga bukan tentara Dai Nippon, tapi berkulit coklat sama seperti dirinya.
“Lihatlah!” Ia berkata kepada rerumputan di pinggir jalan, “Para pejabat itu datang dalam iring-iringan mobil mewah, harganya miliaran rupiah, melintas di pemukiman penduduk yang tersekat di batas kemiskinan. Apa betul orang-orang itu memikirkan nasib rakyatnya?”
Sekarang pun, aroma foya-foya di pesanggerahan itu jelas terasa. Musik dangdut membahana mengiringi lagu “Cucak Rowo”, liriknya berkisah tentang seorang perawan panas-dingin melihat kemaluan suaminya di malam pertama. Sungguh, tak berbeda dengan lagu-lagu mesum zaman Belanda dahulu.
Mereka tak peduli berapa banyak dana dihabiskan untuk menggelar acara ini. Waktu dan tenaga yang dikorbankan, kantor-kantor sepi dan anak sekolah diliburkan untuk berjejer di kedua sisi jalan melambaikan bendera. Bahwa ritual kenegaraan semacam ini disaksikan oleh arwah para pahlawan. Kesempatan untuk mengolah masalah-masalah kebangsaan tak digunakan sebagaimana mestinya.
Lelah bergantian menyanyikan lagu-lagu norak, mereka saling berbalas pantun dengan cengengnya, sambil salah tingkah seperti perjaka baru jatuh cinta. Setelah itu mereka membicarakan penginapan, tetek-bengek upacara, makanan-makanan pilihan dan oleh-oleh untuk dibawa pulang.
“Dasar pejabat gelandangan!”
Adenan berhenti sejenak. Jalan menanjak campur amarah membuat dadanya sesak. Ia menoleh ke belakang sambil berpegangan pada batu. Ia telah mencapai ketinggian yang sesuai untuk melepas pandang selebar mungkin, melepas kerinduannya kepada tanah air yang dicintainya ini. Di atas kepalanya, sangkar burung elang menyebarkan aroma bangkai. Penghuninya kabur sesaat setelah musik dangdut menggetarkan kaki pegunungan ini.
Dengan ujung jarinya, Adenan menggali tanah di sela-sela batu. Ia hendak membenamkan sesuatu sebagai tanda perjuangan belum berakhir. Harapan tak boleh pupus, karena cita-cita adalah minyak bakar yang mengilhami api perjuangan: “Kami, bangsa yang gemilang!”
“Jika keagungan Gunung Bromo mengilhami Bung Karno, maka Gunung Kerinci ini milikku! Tumbuh dan bangkitlah untuk membela nama besar bangsa dan negaramu!”
Lalu ia membenamkan ari-ari cucunya yang lahir semalam. Ini untuk kesekian kali ia melakukan ritual aneh semacam ini, menguburkan ari-ari keturunannya di ketinggian Gunung Kerinci. Tingkah yang ia lakukan untuk membela cita-cita perjuangan yang terus menggelora di dadanya.
Ketika ia turun, embun telah tersingkap bersama matahari yang kian meninggi. Jauh di sebelah kanan, Samudera Indonesia menggelora. Di bawah matanya, asap mengepul dari lobang tanah di persawahan Semurup. Rombongan tamu itu, tak kurang dari seratus mobil, nampak berjejal di suatu sumber air panas. Mereka menjalankan tugas kenegaraan dengan merebus telur bebek bersama-sama.
”Panas sekali airnya!” Pejabat tinggi itu terkagum-kagum mengamati gejolak mata air dari sela-sela batu. Puluhan kamera wartawan menyilaukan matanya. Tiba-tiba ia menoleh ke belakang dan berseru kepada rombongan pengiringnya: ”Hei, yang kemarin kalah main golf di Padang supaya nyemplung sekarang juga. Tidak ada alasan badan pegal-pegal, karena besok kita masih punya waktu sehari penuh bermain di Lapangan Golf Ngarai Sianok. Itu merupakan ajang balas dendam sebelum kita bertolak ke Jakarta esok harinya!”
Para pengiringnya bertepuk tangan dan saling menyemangati. Pejabat tinggi yang satu ini terkenal gemar bernyanyi dan gemar bertaruh di lapangan golf. Ajudannya berkata: ”Kalau Bapak sudah menginginkan, biasanya tak bisa ditunda lagi. Kemarin beliau menang taruhan duapuluh juta!”
Sore menjelang. Akhirnya jadi juga rombongan itu melaksanakan agenda utama kunjungan kerja mereka: Meninjau penggunaan pupuk jenis baru pada tanaman padi. Tak sampai setengah jam rombongan itu di pematang sawah, menunjuk-nunjuk ke sana-kemari, kemudian mereka bergegas pulang karena takut kemalaman dan tak tahan dengan gangguan serangga malam.
Di ketinggian Gunung Kerinci, Adenan bergegas menyeret tubuhnya melewati sebuah lorong. Ia membawa keranjang rotan berisi botol-botol bekas air mineral. Cahaya senja membuat bumi diselimuti brokat emas. Umbul-umbul dan spanduk telah dicabut, menyisakan sampah nasi bungkus dan daun pisang yang berserakan.
Ia sendiri mengakui bahwa kebun teh ini memang indah, luas membentang melonggarkan paru-paru.
Meski dari satu sisi ia seringkali mengejeknya sebagai warisan penjajah, tapi ia tak mengingkari fakta bahwa perkebunan ini telah menjadi sandaran hidup anak-keturunannya. Hampir seluruh anggota keluarganya bekerja di situ.
Selesai.
S. Ritonga, Jambi 2009
*****

