Perempuan itu menatap wajahnya di cermin. Ia mengelus pipinya.
“Praaaangggggg!”
Pecahan kaca berhamburan. Ia mengambil tisu dan membersihkan bekas luka di tangannya.
Perempuan itu tidak tahan melihat wajahnya sendiri. Wajah yang sepuluh duapuluh tahun lalu dibanggakan telah lenyap. Semua tergantikan dengan lekuk kerut di wajah dan memutihnya rambut.
“Cermin, aku tak cantik lagi….” bisiknya lirih. Cermin yang berserakan tak menjawab.
“Sreekkk….!!!”
Semua krim pencerah wajah ia buang dari meja rias. Ia tak percaya lagi bual iklan di televisi. Krim yang katanya bisa membuat wajahnya sepuluh tahun lebih muda justru sebaliknya. Ia kini seperti nenek tua yang menunggu ajal. Padahal ia juga belum punya cucu.
“Sreeeekkkk!!!”
Ia merobek sebuah halaman majalah. Sisa sobekan itu terlihat jelas. “Tips dan trik Membuat Anda Tampak Lebih muda”. Ia tak percaya lagi semua tips dalam majalah itu.
Perempuan itu mengambil korek api. Ia membakar foto dirinya. Foto yang menampakkan kecantikanya saat muda dulu.
“Apa guna cantik kalau tak lagi menarik?” pikirnya.
Sophie!
sebuah panggilan membuyarkan lamunannya. Ia meletakkan buku dongeng anaknya.
“Ini contoh sampul majalah untuk bulan depan. Mau dipakai yang mana?”
“Ini saja” Sophia menunjuk sebuah foto perempuan cantik