(Diadopsi dari Cerita Pendek Robohnya Surau Kami, AA Navis, 1958)
Jika Anda berkunjung ke Kota Jambi sekarang ini, dan menyempatkan diri menyusuri tepian Sungai Batanghari, Anda akan mendapati jalan aspal yang terawat dengan baik merapat di sisi sungai. Tak ada kemacetan, tak ada demo-demo. Setelah melewati Pasar Angso Duo yang hiruk-pikuk, Anda akan tiba di taman rekreasi Tanggo Rajo, tepat di depan rumah dinas Gubernur Jambi. Sekitar satu kilometer lagi ke depan, masih di tepi sungai, terdapat Markas Yonif 142/Ksatria Jaya dengan prajurit-prajuritnya yang berambut cepak dan senantiasa sibuk berlatih. Ke depan lagi, jika Anda berminat menembus hutan, Anda akan berada di atas jalan yang datar dan tenteram melintasi lahan bergambut. Itulah Wilayah Kecamatan Kumpeh Ulu, lokasi pertanian terkemuka di Propinsi Jambi. Banyak terdapat pohon duku dan durian di tempat ini, juga kolam-kolam ikan dan kebun kelapa sawit. Sekedar tahu saja, buah manggis dari Kumpeh Ulu telah diekspor ke manca negara dalam bentuk kalengan, terkenal berkualitas tinggi dan bercita-rasa istimewa.
Tapi bukan itu yang menjadi soal.
Masalahnya adalah Ajo Sidi, laki-laki pembual dalam cerita Robohnya Surau Kami itu, ternyata kini berada di Kumpeh Ulu. Memang sudah tua orangnya, sekitar enam puluh tahunan, tapi ia masih cekatan mengurus sendiri kolam lele di tengah dua hektar kebun kelapa sawit miliknya, yang juga dirawatnya sendiri. Tapi seiring usianya yang semakin tua, ia mulai mengurangi kegiatan fisik dan tampak lebih tekun beribadah. Ia mendirikan surau kecil di galangan kolam itu, yang didatanginya setiap shalat lima waktu. Satu hal yang tidak berubah adalah kegemarannya membual. Ada-ada saja yang diceritakannya kepada orang-orang yang mampir di suraunya. Kadang-kadang ia bercerita mengenai dunia, kadang-kadang membahas akhirat. Adakalanya ia berlagak seperti kiyai yang saleh, lain waktu berkelakuan begajul udik. Di sela-sela kegiatan memanen kelapa sawit, Ajo Sidi pernah kedapatan makan siang di suraunya, padahal sedang bulan puasa ketika itu. “Saya akan menggantinya di lain waktu. Tuhan memberi kelonggaran untuk itu!” katanya memberi alasan.
Belum puas rupanya ia membuat geger Padang Pariaman, kini ia bikin ulah pula di Kumpeh Ulu. Bedanya adalah, jika di Padang ia membuat Haji Karim putus asa merenungi peribadatannya, tapi di Jambi bualan Ajo Sidi membuat orang makin rajin mengurus kebun. Cerita-ceritanya selalu memukau, menukik langsung ke inti persoalan duniawi. Kadangkala diiringi gelak tawa, kadangkala menyiratkan keprihatinan. Salah satu yang termakan dakwah Ajo Sidi adalah pensiunan kopral bernama Sutarman. Sebelumnya purnawirawan ini lebih banyak tinggal di rumah menghabiskan hari tuanya. Setelah bertemu Ajo Sidi, tiba-tiba ia bangkit dengan gairah muda. Lahan kosong miliknya langsung dibabatnya, ditanaminya dan diurusnya sendiri dengan semangat juang empat lima. Tak pelak lagi, lahan itu menjadi salah satu kebun kelapa sawit terbaik di Kumpeh Ulu. Tidak sulit menemukan tandan buah seberat setengah kuintal tersangga di pelepahnya.
Sebagai sesama Warga Kumpeh Ulu, saya sangat heran dengan perkembangan ini. Betapa mudahnya Ajo Sidi membangkitkan gairah kerja orang-orang. Sedangkan pemerintah saja, yang pontang-panting menyusun program pembangunan didukung anggaran sekian-sekian, tak dapat mengikis sifat pemalas bangsa ini. Tapi Ajo Sidi melakukannya sekilas saja, seperti angin pegunungan yang bertiup, setiap orang langsung merasakan kenikmatannya. Karena itu sekali waktu saya memutuskan menemui Sutarman di ladangnya, untuk mencari tahu apa sebenarnya yang diceritakan Ajo Sidi kepadanya. Sebab siapa tahu kelak saya bisa menjadi juru dakwah pula, saya akan menyebut diri saya sebagai juru dakwah pembangunan. Itu ide yang hebat. Dan inilah cerita yang saya dapatkan:
“Pada hari berhisab nanti…..” demikian Ajo Sidi memulai ceritanya, “Seluruh manusia akan dikumpulkan menjadi satu di tempat yang bernama Padang Mahsyar, untuk menghadiri sidang pengadilan yang dipimpin langsung oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Inilah hari yang disebut Hari Berhisab. Setiap orang akan mempertanggungjawabkan amal perbuatannya di dunia, lalu diputuskan apakah layak menghuni surga atau dijebloskan ke neraka. Banyaknya manusia yang berkumpul di tempat itu tak dapat dilukiskan dengan kata-kata, bermilyar-milyar orang sejak jaman Nabi Adam. Situasinya menjadi penuh sesak – berbaur segala manusia. Sementara itu matahari di langit hanya setinggi pohon kelapa…..
Beragam tingkah laku manusia yang sedang menanti diadili itu. Ada orang yang hilir-mudik memikul buntalan sebesar kerbau di pundaknya, itulah dosa-dosanya. Ada yang muncul dengan wajah sehitam arang, ada yang hitam setengahnya, dan ada yang putih bersinar-sinar. Itu pun sesuai amal-perbuatannya. Ada orang yang terus menerus memandangi jempol kakinya, dimana terdapat noktah kecil bercahaya, berharap titik kecil itu dapat menyelamatkannya, karena hanya itulah pahala yang didapatnya di dunia.
Ada juga sekelompok orang berbincang-bincang sambil menunggu giliran. Masing-masing memamerkan peribadatannya di dunia untuk meneguhkan hatinya Jika seseorang menyatakan telah naik haji sekian kali, yang lain menyela bahwa ia telah menyumbang pembangunan mesjid sekian banyak. Dan yang lainnya pula memamerkan puasa sunatnya sekian ratus hari. Tak ada yang mau kalah.
Namun di dalam antrian yang panjang itu ada seseorang yang betul-betul dilanda kekhawatiran. Ia adalah kopral purnawirawan Marzuki. Sebagai tentara berpangkat rendah selama hidup di dunia, ia tidak memiliki apa-apa untuk disombongkan. Ia tak pernah menunaikan ibadah haji, tak pernah bersedekah untuk pembangunan mesjid lebih dari sepuluh ribu, ia juga tidak memiliki ibadah sunat yang patut dibanggakan. Sebagai anak buah, ia disibukkan oleh perintah-perintah pimpinannya. Latihan-latihan, jaga malam, berpatroli, itu saja yang dilakukannya…
Hanyut dalam renungan, ia bahkan tidak menyadari telah sampai pada gilirannya. Tiba-tiba ia sudah berada di hadapan Tuhan Yang Maha Besar.
“Kau!”
Seketika Marzuki terpana mendengar suara itu. Itulah suara Tuhan, suara yang tak pernah terbayangkan olehnya sebelumnya: “Siap, Tuhanku! Saya Marzuki, Pangkat Kopral Satu, Nrp 644..….”
“Cukup!” Tuhan memerintahkan, “Aku tidak memerlukan pangkatmu disini. Upacara-upacara itu pekerjaan manusia di dunia. Sekarang, laporkan amal perbuatanmu!”
“Siap…,” Marzuki tergagap. Inilah pertanyaan yang ditakutinya itu. “Siap…, siap…, tidak ada, Tuhanku!”
“Hahh….!!??”
Malaikat pencatat amal baik dan amal buruk yang berdiri di sisi Tuhan saling berpandangan mendengar jawaban itu, lalu membuka catatan masing-masing. Bagaimana pun mereka telah terbiasa menghadapi orang-orang yang mencoba berbohong di hadapan Tuhan, sehingga mereka terpaksa menggunakan tongkat pemukul untuk menegurnya. Tapi untuk orang yang satu ini mereka terpaksa mengakui bahwa jawaban itu lain dari biasanya. Lebih-lebih setelah Marzuki melanjutkan: “Mohon ampun, Tuhanku. Hamba tidak memiliki sesuatu yang patut disebutkan.”
“Apakah kamu tidak pernah Shalat? Puasa? Zakat?”
“Ampun, Tuhanku! Hamba melaksanakannya. Tapi tidak utuh…..”
”Bagaimana dengan ber-haji? Berapa kali kamu naik haji?”
“Tidak pernah, Tuhanku!”
“Menghadiri majelis taklim? Shalat berjamaah? Berzikir? ”
“Hanya sedikit, Tuhanku!”
“Puasa Senin – Kemis?”
“Tidak pernah, Tuhanku!”
“Apa…!!?”
Marzuki memejamkan matanya karena mengira malaikat yang murka akan memukul kepalanya dengan tongkat karena jawaban-jawaban itu. Ia bertekad untuk menghadapi segala resiko dengan segenap keikhlasan. Tapi pukulan itu tak pernah datang. Malahan Tuhan berkata lagi:
“Salah satu anakmu kau sekolahkan menjadi dokter, betul begitu?”
“Betul, Tuhanku!”
“Satu lagi menjadi Sarjana Pertanian, betul begitu?”
“Betul, Tuhanku!”
“Baik! Aku anugerahkan gaji yang kecil bagi kalian golongan tentara. Tetapi Aku taburkan nikmatKu yang tak terbatas di muka bumi, bagi hambaKu yang tekun bekerja mengolahnya. Engkau telah berhasil menyekolahkan anak-anakmu dari nikmat yang Kutaburkan itu. Tinggal sekarang, jelaskan bagaimana caramu mendapatkannya…..”
Marzuki menarik napas lega, satu kesulitan besar telah terlewati. Dengan mudah ia menjelaskan kegiatannya selain menjalankan tugas-tugas kemiliteran. Bahwa ia memiliki kebun kelapa sawit seluas dua hektar yang selalu didatanginya pada hari libur Sabtu dan Minggu. Hasilnya cukup untuk membiayai kuliah anak-anaknya. Bahwa ia menanam sayur-sayuran di tepi kebun itu, bahwa ia kerap memasang bubu ikan di saluran air sehingga keluarganya tak pernah kekurangan lauk-pauk. Selain menyampaikan rasa syukur atas rejeki yang diterimanya dalam hidup, ia juga menyampaikan keluhan yang dibawanya sejak dari dunia, yaitu putera pertamanya yang meninggal pada usia empat tahun akibat sakit : “Tuhanku, ijinkanlah aku bertemu dengannya dan menggendongnya sekali lagi. Saya sangat merindukannya…. “ Marzuki menitikkan airmata. Dalam penjelasannya yang panjang itu Marzuki sama sekali tak pernah menyebutkan bahwa ia meminta dimasukkan ke surga.
“Apakah kamu tidak menginginkan surgaKu?” Tuhan bertanya.
Marzuki tidak menjawab.
“Ayo, jawab! Apakah kamu tidak menginginkan bidadariKu yang cantik-cantik itu?”
“Tidak, Tuhanku. Saya tidak menginginkannya,” jawab Marzuki.
“Mengapa?”
“Satu-satunya yang saya inginkan adalah berkumpul kembali dengan anak-isteri saya di dunia dahulu, sebagaimana kami berjanji akan selalu bersama dari dunia sampai akhirat. Mohon kemurahanMu, ya, Tuhanku. TakdirMu telah memisahkan kami begitu lama. Pertemukanlah kami kembali!”
Suasana menjadi hening. Para malaikat pun heran dengan permintaan itu. Pada umumnya laki-laki dari dunia berebut mendapatkan bidadari, lupa kepada anak dan isterinya, menganggap malaikat sebagai mak-comblang saja. Ada yang meminta tiga bidadari setiap malam dan berganti pada malam berikutnya. Ada yang minta tujuh, sepuluh, duapuluh, dan seterusnya. Tapi yang ini betul-betul berbeda.
Akhirnya Tuhan berkata kepada malaikatNya yang bernama Rokib: “Kukabulkan permintaan hambaKu ini. Segera hamparkan permadani dari sini sampai ke pintu surga, dan iringi setiap langkahnya. Tempatkan ia di surgaKu yang tertinggi bersama anak-isterinya. Aku akan tunjukkan kepadanya seluas apa nikmatKu, seluas apa rahmatKu……”
Begitulah cerita Ajo Sidi.
Menurut Ajo Sidi, menafkahi keluarga itu sangat besar pahalanya. Sebaliknya mengabaikan nafkah keluarga itu sangat besar dosanya. Dan bagi para orangtua yang kehilangan putera-puteri yang dicintainya di dunia ini, mereka dapat bertemu kembali di surga.
Di Indonesia ini, kata Ajo Sidi lagi, tak ada orang terancam kelaparan, asalkan mau bekerja mengolah nikmat Tuhan yang bertebaran dimana-mana.
Selesai!
Catatan Penulis: Cerita ini rekaan semata-mata, diispirasi oleh Cerpen Robohnya Surau Kami, karangan AA Navis, 1958. Pesan yang dititipkan dalam cerita ini adalah sifat rendah hati dan teguh pendirian. Cinta kepada keluarga, cinta kepada tanah air, bangsa dan negara, serta menggugah semangat bekerja keras. Semoga pesan itu sampai kepada pembaca.
Cerpen ini pula telah pernah saya posting dengan judul Surau Di Tepi Kolam. Sedikit sekali pembacanya, mungkin karena judulnya tak menarik, maka saya putuskan untuk repost lagi dengan mengganti judul, dan menghapus postingan pertama. Mudah-mudahan tidak menyalahi aturan. Maksud saya adalah, agar cerita ini dibaca sebanyak-banyaknya, sebagai bahan perbandingan sekaligus renungan, demi menuju kebajikan hidup.
Terimakasih.
S. Ritonga, Jambi.

