Barangkali begitulah Tuhan mempertemukan sebuah puisi dengan pembacanya. Ketika kemarau tahun ke-2 di Cijapun hampir mematahkan saya, sebuah arsip lama di sebuah milis penyair terbaca. Tercatat, hari ke-14 pada Juli 2002, seorang penyair perempuan yang saya agungkan menuliskannya.
Barangkali begitulah. Puisi sederhana “Seorang Perempuan yang Menangis di Bulan” saya baca jauh setelah sang penyair berangkat menempuh perjalanan raya. Sebagai satu di antara segepok catatan yang tertinggal.
Barangkali begitulah, puisi sederhana yang disuka dapat meletupkan gumam, dan gumam bisa diiring dengan bebunyian lain. Barangkali kerelaan memiara gumam melahirkan sebuah musikalisasi. Musikalisasi puisi? Musikalisasi gumam!
Barangkali begitulah, musikalisasi memudahkan mengingat bait demi bait pada sebuah puisi. Puisi “Seorang Perempuan yang Menangis di Bulan” terubah menjadi sebuah balada (ballad) sederhana. Ketika musim berubah menjadi basah menahun, datang niat untuk mendokumentasikan musikalisi atas puisi termaksud.
Barangkali begitulah, sebuah kerjasama. Puisi BuRuLi, tergubah menjadi gumam dan terekam seadanya dengan perangkat perekam suara telepon selular, lalu dirapikan seorang lain supaya tak menyakiti telinga orang yang mendengar. Terima kasih kepada Asrini yang dengan senang hati memanfaatkan waktu luangnya untuk merapikan musikalisasi puisi ini.
Barangkali begitulah adanya bila versi suka-suka ala saya dan versi manis ala Asrini Marcelewicz, ada bedanya. Tapi barangkali begitulah (bila disepakati ini sebagai) sebuah lagu… diizinkan untuk disenandungkan dengan gaya masing-masing.
Seorang perempuan muda menangis di bulan
Air matanya jatuh bagai bulir mutiara salju
Menghujam tanah sebagai benih
Tumbuh ia
hijau menghidupi
Demikianlah kisah di benak petani muram
Saat ladangnya kering
Sebagai harapan dan doa oh doa
Di celah mimpi-mimpi merana
Menari di bulan
Menyanyikan hujan
Menarikan hujan
Selimuti bulan
* Syair sedikit diubah dari puisi di bawah ini
———-
Seorang Perempuan yang Menangis di Bulan
Sajak Pulung Amoria Kencana
Seorang perempuan muda duduk di bulan
Airmatanya jatuh bagai bulir-bulir mutiara salju
Menghujam tanah sebagai benih
Tumbuh ia
Subur dan hijau menghidupi
Demikianlah kisah di benak petani muram
Saat ladangnya kering
Sebagai harapan dan doa
Di celah mimpi yang merana