kawanku, bahkan daunan yang rontok tetap diperhitungkan tuhan
ketika gugur di tanah, dijadikannya ia humus sebelum akhirnya menumbuhkan kehidupan lainnya
kebajikannya yang sederhana, adalah lantaran daun tak pernah ngungun menjadi pelengkap rimbun puhun
itulah soalnya, aku senantiasa percaya betapa tuhan tak pernah silap apalagi alpa terhadap segenap kebaikan
maka aku pun teringat sebuah kisah,
serombongan malaikan turun pada sebuah kapel dan turut bersuka-cita oleh nyanyian jemaat yang tulus
waktu berlalu, kapel dirobohkan, sebuah gereja berdiri megah, para malaikat menyingkir gerah
lantai marmer dan tiang kokoh serta –pintu gereja yang tertutup karena takut akan pencuri *)
barangkali telah menjadi penyebab suara jemaat parau
para malaikat kini telah menepi
berdiam di kapel-kapel yang sunyi
di mana nyanyian dilafazkan dengan hati
kau ingatkah juga kisah seorang kakek penyapu halaman mushala?
betapa ia menangis saat menjumpai pagi tanpa selembar daun pun yang bisa ia sapu
lantaran seseorang telah merebut ibadahnya sebelum sang kakek terbangun?
sambil menyesali diri di halaman yang suwung, sang kakek berjanji bakal terjaga lebih pagi