1000 Puisi

Berebut Sebutir Hujan di Pasuruan

Oleh : Sultan Haidar Shamlan

tujuh pekan sudah dalam abstraksi gemuruh
putra angin berbisikan
syahdu memperbincangkan hujan di Pasuruan
prakiraan sampai mengisyaratkan
: di paruh tengah Ramadhan

janji putra angin menjadi penawar
kekeringan waktu belakangan
letih dalam ketidaksanggupan
bosan menjadi manusia-manusia ketidakpastian
kulminasi didihan kecemasan sebelum lebaran

ornamen-ornamen langit mensiratkan harapan
gugusan awan ungu telah memayungi kelam
ribuan pasang tangan menanti di jalanan
menyambut turunnya bingkisan dari awan
yang nir di depan rumah seorang dermawan

belasan sampai puluhan ribu orang
lamat-lamat mengadahkan dua tangan
menanti tetes butiran kesejukan
gaduh berjejalan dan berdesakan

guntur yang nestapa pekik di langit
pada seujung halimun petir berkilatan
ketakutan berdorongan kehabisan takaran
perempuan-perempuan bertaruh kehidupan
sederet sudah sukma melayang
persembahan pada gerimis yang belum datang

yang tercatat di paruh tengah Ramadhan
bumi terlanjur basah dilumuri kesenduan
meratapi regangan sukma melayang
menggugat kepergian putra angin tanpa berpamitan
berjanji kembali yang entah kapan

jutaan pasang mata nanar mendongak
pada hujan yang enggan datang di Pasuruan
sambil mencermati dengan mata telanjang
: bolongnya lapisan ozon kesejahteraan

Mengenang Tragedi Pasuruan (15/09/2008)

Mengenang Tragedi Pasuruan (15/09/2008)

Tulis Tanggapan Anda
Guest User