1000 Puisi

Tangis Perempuan Bernama Pertiwi

Oleh : Zulfikar Akbar

13232926092112271688

Gbr: Syahwatvirtual

Kalian bisa melihat keletihan dari langkah ibu, anak-anakku?
Langkah yang sama sekali tidak lagi ayu
Seperti ketika bapakmu menemukan alasannya mencintaiku?

Tidak, kalian pasti sudah tidak bisa melihat itu
Kalian bahkan lupa pernah memiliki seorang ibu
Kukira begitu

Karena mungkin oleh sekian dendam, oleh sekian jeritan lapar
Yang membuat kau dan cucuku menggelepar-gelepar
Yang bahkan untuk doakan tibanya sepiring nasi,  mulutmu sudah demikian gemetar

Atau, oleh karena kau terkadang harus teriak-teriak di pinggir jalan
Sebagai pengamen, sebagai tukang parkir, atau sebagai apalah
Demi untuk bulir-bulir nasi yang mungkin kerap kau lupa seperti apa sudah aromanya

Atau, oleh karena kau terkadang harus merangkak-rangkak di pinggir jalan
Menyeret kaki lumpuh karena ketidaksanggupanmu dapatkan obat
Demi untuk segenggam beras dan sebotol kecil air

Atau, karena memang demikian telanjang terlihat
Lama sudah aku tidak bisa berikanmu secangkir sejuk air
Apalagi sekian tetes susu

Kutahu, teramat tahu bahwa pertumbuhanmu tidak lagi karena aliran susuku, anakku
Kutahu, kau tumbuh justru dalam tamparan-tamparan matahari yang digenapi caci maki
Maka, aku pun malu untuk memaksamu memanggilku ibu

Tapi, Nak
Diam-diam aku masih berharap dan berdoa
Entah dalam hujan, entah ketika kemarau panjang
Untuk kau masih menyebutku dengan sebutan yang demikian menyentuhku sebagai perempuan
Iya, sebutan “Ibu”, dari mulutmu, anak-anakku.

Satu lagi, Nak

Jangan kutuk ibu yang gagal menyumpal rata mulut kalian dengan susuku

Dadaku sudah tua, susuku sudah tak bersisa

Catatan:

Terinspirasi oleh pengamen, bocah-bocah pengemis, gelandangan: Bandung dan Jakarta.

Tulis Tanggapan Anda
Guest User