Kelahiran MAJALENGKA, Tempat Gunung Ciremai menjulang tinggi... Asyik Nglyulur Untuk memuaskan Jiwa
Mih…
Kalau ada yang bilang, seorang ayah itu harus laki-laki..
Maka kau telah menyanggahnya, Mih..
15 tahun Kau telah berperan sebagai Ibu sekaligus Ayah, Mih..
Mih, saat Magnya memaksa untuk nginep di RS..
Kau teteskan air mata, air lir mu ketika Kau sebagai Ibu memohon pada Tuhan..
Kau usap bagian tubuhku yang sakit, dengan penuh kasih sayang seorang Ibu, Mih..
Selama 15 tahun juga kau teteskan keringatmu, untuk membiayai hidupku..
Kau kayuh sepeda, kau tantang dinginnya pagi, kau halau sengatan matahari, Mih…
Kalau ada seorang Ibu yang juga bisa berperan sebagai Ayah..
Maka itu lah Kau Mih..
Kau, yang terus berdo’a meneteskan air mata, merawatku hangat, sebagiamana Ibu pada umumnya..
Kau juga bekerja, melindungi, menafkahi membentak ‘anak laki-laki koq cengeng’ ketika kau perankan sebagai ayah..
Kau adalah Ibu dan Ayah bagi Ku Mih.. Sejak sosok ayah meninggalkan kita 15 tahun yang lalu…
Mih… ketika Muhammad SAW merasa tenang di dekapan Khodijah..
Maka….
Aku ingin mendekap dan menangis di pangkuanmu, bagai masa kecil dulu..
Dan…
Do’a dari mulut muliapun tercurah untukku, Mih..
*Mih adalah sebutan untuk Ibu di Desaku*
“Selamat Tinggal” Kemiskinan, Sabda Sang Kepala …